Kredit Foto: Unsplash/Rendy Novantino
Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai tingginya tingkat gagal bayar (default) menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya praktik penagihan bermasalah di industri buy now pay later (BNPL). Pelaku industri pun diminta mengalihkan fokus dari mengejar pertumbuhan penyaluran pembiayaan menjadi memperkuat kualitas debitur untuk menjaga kesehatan bisnis dalam jangka panjang.
Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda mengatakan semakin tinggi tingkat gagal bayar suatu lembaga keuangan, semakin besar pula tekanan terhadap perusahaan penagihan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan penagihan.
"Saya melihat semakin tinggi gagal bayar di satu lembaga keuangan, maka semakin sering pula kasus-kasus seperti penagihan yang tidak wajar. Perusahaan penagihan memiliki indikator keberhasilan yaitu semakin banyak nasabah gagal bayar yang membayar utangnya," ujar Huda kepada Warta Ekonomi, Rabu (29/7/2026).
Menurut Huda, karakteristik pembiayaan BNPL yang tidak disertai agunan memang membuat risiko gagal bayar relatif tinggi. Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh perlambatan ekonomi dan maraknya praktik judi online yang berdampak pada kemampuan masyarakat memenuhi kewajiban pembayaran.
"Di sisi lain, karena tidak ada jaminan, pasti akan tinggi pula kehendak untuk gagal bayar. Apalagi di kondisi seperti sekarang ini di mana ekonomi lesu, judi online merebak jadi wabah, maka potensi gagal bayar cukup tinggi. Tidak heran, angka TWP90 betah di angka 4%an," ucapnya.
Ia menilai perusahaan pembiayaan perlu mengubah strategi bisnis dengan mengedepankan kualitas peminjam dibanding mengejar pertumbuhan penyaluran pembiayaan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan rasio pembiayaan bermasalah sekaligus menjaga keberlanjutan industri.
"Selalu saya sampaikan, jangan mengejar kuantitas penyaluran di saat seperti ini. Kualitas dari borrower menjadi hal utama untuk menghindari adanya gagal bayar yang tinggi," tuturnya.
Lebih lanjut, Huda menyarankan pertumbuhan penyaluran pembiayaan dijaga pada level yang lebih moderat agar kualitas portofolio dapat terus membaik.
"Pertumbuhan penyaluran harus diturunkan di bawah 15%, kualitas diperbaiki sehingga TWP90 di bawah 2,5%. Kesehatan platform dalam jangka menengah dan panjang menjadi hal penting," pungkasnya.
Baca Juga: Masyarakat Pakai Paylater buat Beli Sembako, Industri Diminta Waspada
Baca Juga: Dompet Masyarakat Makin Tipis? Kredivo Ungkap Paylater Kini Dipakai Buat Belanja Harian
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan masih mencatat pertumbuhan yang tinggi. Hingga Mei 2026, penyaluran pembiayaan BNPL tumbuh 53,78% secara tahunan menjadi Rp13,18 triliun, dengan rasio non-performing financing (NPF) gross sebesar 3,44%.
Di tengah pertumbuhan tersebut, Huda menilai kualitas pembiayaan harus menjadi perhatian utama agar ekspansi industri tidak diikuti peningkatan risiko gagal bayar maupun praktik penagihan yang berpotensi merugikan konsumen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: