Fortinet Sebut AI Tak Cukup Canggih, Harus Didukung Keamanan Siber
Kredit Foto: Fortinet
Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat seiring semakin banyak organisasi yang mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam operasional bisnis, layanan pelanggan, hingga pengambilan keputusan. Namun, di tengah percepatan implementasi AI, aspek kepercayaan, tata kelola, dan keamanan siber dinilai menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan pemanfaatannya.
Country Director Fortinet Indonesia Edwin Lim mengatakan organisasi tidak cukup hanya berinvestasi pada teknologi AI, tetapi juga harus membangun fondasi keamanan siber dan tata kelola yang kuat agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
“AI memiliki potensi besar untuk mempercepat inovasi dan meningkatkan produktivitas organisasi. Namun, nilai tersebut hanya dapat diwujudkan apabila AI dibangun di atas fondasi keamanan siber yang kuat, tata kelola yang jelas, serta prinsip penggunaan yang bertanggung jawab. Kepercayaan menjadi faktor utama yang akan menentukan keberhasilan adopsi AI di Indonesia,” ujar Edwin.
Menurut dia, organisasi yang mampu memperoleh manfaat terbesar dari AI bukan hanya yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga yang mampu membangun tata kelola, sumber daya manusia (SDM), dan disiplin operasional dalam pengelolaan AI.
Edwin menilai peningkatan penggunaan AI turut mengubah lanskap keamanan siber. Selain membantu organisasi mendeteksi ancaman, mengotomatisasi operasi keamanan, dan mempercepat respons terhadap insiden siber, AI juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan skala maupun kompleksitas serangan.
Kondisi tersebut membuat organisasi memerlukan visibilitas yang lebih menyeluruh terhadap ekosistem digital, terutama ketika aplikasi AI telah digunakan di lingkungan cloud, edge, maupun hybrid. Menurutnya, sistem keamanan yang terfragmentasi berpotensi menyulitkan organisasi mengelola risiko sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan AI.
Fortinet juga menilai tata kelola AI perlu diterapkan pada seluruh siklus pengembangan, mulai dari tahap perancangan, implementasi, hingga pengelolaan jangka panjang. Langkah tersebut mencakup penetapan akuntabilitas, penyusunan kebijakan, serta penerapan kontrol keamanan pada setiap tahap pengembangan AI.
Baca Juga: Komdigi Lantik Lima Pejabat Baru, AI Jadi Fokus Transformasi Digital
Baca Juga: OJK Dukung AI Perkuat Daya Saing Industri Asuransi
Baca Juga: Belanja AI Membengkak, Big Tech AS Tanggung Utang Rp53.900 Triliun
Selain tata kelola, kesiapan SDM menjadi faktor lain yang menentukan keberhasilan transformasi digital berbasis AI. Seiring meningkatnya penggunaan teknologi tersebut, organisasi dinilai membutuhkan talenta yang tidak hanya memahami keamanan siber, tetapi juga tata kelola AI, manajemen risiko, dan prinsip penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Edwin menambahkan investasi pada pendidikan, pelatihan, serta pengembangan kompetensi digital perlu diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan guna mendukung kebutuhan talenta AI dan keamanan siber di Indonesia.
Menurutnya, penguatan aspek kepercayaan terhadap AI akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan ekonomi digital nasional, sekaligus mendukung inovasi dan daya saing Indonesia di tengah meningkatnya adopsi teknologi berbasis AI.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: