Eks Wamenkumham Bertanya: Mungkinkah Prabowo Tumbang, Gibran Naik Jadi Presiden?
Kredit Foto: Istimewa
Eks Wamenkumah Denny Indrayana menulis surat terbuka yang mempertanyakan kemungkinan Presiden Prabowo Subianto tumbang dari kekuasaan dan digantikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam tulisannya, Denny menyebut percakapan di kalangan masyarakat belakangan banyak membicarakan ketahanan pemerintahan Prabowo. Ia menyinggung isu nilai tukar dolar yang menguat, ancaman krisis ekonomi, dugaan skandal, hingga spekulasi soal loyalitas koalisi.
Menurut Denny, secara konstitusional posisi Presiden Prabowo sangat kuat. Proses pemakzulan harus dimulai dari DPR, diperiksa Mahkamah Konstitusi, lalu diputus MPR. Koalisi pendukung pemerintah menguasai parlemen sehingga upaya formal dinilai sulit berhasil.
Ia juga menilai kontrol di luar parlemen melemah. Pengamat dan lembaga survei banyak direkrut ke lingkaran istana, media mengalami perubahan kepemilikan, sementara sejumlah tokoh buruh dan ormas memperoleh posisi atau konsesi.
Meski demikian, Denny mengingatkan bahwa kekuasaan dapat goyah melalui jalur non-parlemen jika muncul krisis ekonomi, skandal publik, atau skandal pribadi yang memicu perlawanan sipil. Ia merujuk teori bahwa perlawanan damai yang luas dapat mengikis loyalitas elite dan aparat.
"Bapak Presiden, saya tidak sedang berandai-andai, apalagi mendorong bangsa ke jurang krisis multidimensi. Namun, pemimpin wajib mengantisipasi setiap kemungkinan, terutama ketika krisis dapat menyasar kursi kepresidenannya sendiri," jelasnya.
Denny menegaskan kekhawatirannya jika terjadi kekosongan kekuasaan. Menurutnya, jika Presiden dan Wakil Presiden berhalangan, konstitusi mengatur tiga menteri (Luar Negeri, Dalam Negeri, dan Pertahanan) menjalankan tugas sementara, kemudian MPR memilih pasangan baru dari usulan partai peraih suara terbanyak pada pemilihan sebelumnya.
Ia menyatakan tidak menginginkan Gibran menjadi presiden karena menilai sosok tersebut belum memiliki pengalaman dan wibawa yang memadai untuk memimpin Indonesia. Denny menyebut pengangkatan Gibran sebagai wakil presiden sebagai “dosa terbesar” elite politik sebelumnya.
"Yang lebih tak terbayangkan, dan semestinya tak pernah terjadi: jika Prabowo tumbang, Indonesia dipimpin Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam pandangan saya, itu bukan sekadar salah arah. Itu petaka!," tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: