Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Makin Populer, Anies Baswedan Belum Bisa Kalahkan Popularitas Dedi Mulyadi untuk Pemilu 2029

Makin Populer, Anies Baswedan Belum Bisa Kalahkan Popularitas Dedi Mulyadi untuk Pemilu 2029 Kredit Foto: Instagram/aniesbaswedan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Elektabilitas mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih bertahan di kelompok papan atas dalam bursa calon presiden berdasarkan hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Meski berada di bawah Dedi Mulyadi dan Presiden Prabowo Subianto, Anies menempati posisi ketiga dengan dukungan 8,2 persen.

Survei SMRC yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 itu memperlihatkan Dedi Mulyadi memimpin simulasi terbuka calon presiden dengan elektabilitas 35 persen. Sementara Presiden Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan 14,5 persen.

Di bawah Anies Baswedan, terdapat nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh 7,7 persen. Selanjutnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meraih 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD sebesar 4 persen.

Hasil tersebut menunjukkan Anies masih menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam peta persaingan menuju Pemilihan Presiden, meski jarak elektabilitasnya dengan dua nama teratas masih cukup lebar.

Survei yang sama juga mencatat adanya perubahan signifikan pada tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Approval rating Presiden turun menjadi 51,1 persen, atau merosot 30,1 persen dibandingkan November 2025 yang mencapai 81,2 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan penurunan kepuasan publik tersebut terjadi seiring memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

"Approval rating tidak datang dari hampa. Penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum," ujar Deni dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).

SMRC juga mencatat meningkatnya pesimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional. Sebanyak 49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk, meningkat tajam dibandingkan November 2025 yang berada di angka 22,7 persen.

Baca Juga: Bukan Pelaku, Ini Alasan KPK Periksa Mantan Jubir Anies Baswedan

Menurut Deni, persepsi negatif masyarakat tersebut sejalan dengan pandangan sejumlah ekonom yang menilai pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya dirasakan di tingkat individu.

"Bisa dikatakan persepsi publik ini mengonfirmasi perkiraan sejumlah ekonom, bahwa pertumbuhan ekonomi bukan angka yang salah, tetapi itu tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi di tingkat individual masyarakat," kata Deni.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat