Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Anjlok Lebih dari US$1, Permintaan Global 2026 Ikut Dipangkas

Harga Minyak Anjlok Lebih dari US$1, Permintaan Global 2026 Ikut Dipangkas Kredit Foto: SKK Migas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga minyak dunia turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Pelemahan terjadi setelah sejumlah lembaga memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026 akan lebih rendah akibat gangguan ekonomi dan pasokan energi yang dipicu perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Namun, tekanan terhadap harga minyak masih tertahan oleh risiko gangguan pasokan dari konflik tersebut, terutama di jalur pelayaran strategis kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$1,29 atau 1,5% menjadi US$87,69 per barel pada pukul 01.00 GMT. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,30 atau 1,6% menjadi US$81,97 per barel.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 580.000 barel per hari (bph) dalam laporan pasar minyak bulanannya.

Pada hari yang sama, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi minyak global pada tahun ini justru akan mengalami kontraksi sebesar 1,6 juta bph. Proyeksi tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mencatat penurunan 1 juta bph.

IEA menyebut terbatasnya pasokan bahan bakar dan kenaikan harga akibat perang AS-Israel dengan Iran menjadi faktor yang menekan permintaan energi.

Tekanan harga juga datang dari lonjakan persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat. Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA), stok minyak mentah AS melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus 2026.

Baca Juga: Tensi Timur Tengah Mereda, Harga Minyak RI Turun ke US$81,68

Baca Juga: Harga Minyak Lanjut Melemah, Pasar Tunggu Kemajuan Upaya Akhiri Perang Iran

Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Januari 2023 dan membawa persediaan minyak AS ke level tertinggi sejak 5 Juni. Angka tersebut juga jauh di atas ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan stok minyak mentah akan turun 1,4 juta barel.

Meski demikian, harga minyak masih bertahan di level tinggi karena belum adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan AS untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Seorang sumber senior Iran mengatakan pada Rabu bahwa belum ada kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni sekaligus menentukan jadwal pelaksanaannya.

Risiko terhadap pasokan minyak juga meningkat setelah terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb pada Selasa. Kedua jalur tersebut merupakan rute penting bagi ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah.

Analis Haitong Futures menilai kondisi keamanan pelayaran di kawasan tersebut semakin memburuk. Situasi itu bahkan mendorong sejumlah kapal mematikan sinyal pelacaknya, sehingga transparansi aktivitas pelayaran menurun dan pasar semakin sulit memperkirakan tingkat pasokan minyak yang sebenarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: