Indonesia Cyber Protection 2026 Dorong Industri Keuangan Perkuat Ketahanan Siber Berbasis Era AI
Kredit Foto: Warta Ekonomi
Jika BSSN dan OJK menyoroti aspek sistem dan kepercayaan, maka dari sisi operasional industri, tantangan nyata justru banyak terjadi pada level manusia dan proses yang menjadi titik masuk utama serangan siber.
Direktur TI dan Digital PT Pegadaian Yos Iman Jaya Dappu menyoroti pentingnya aspek people dan process dalam keamanan siber. Menurutnya, teknologi keamanan tidak akan optimal apabila tata kelola manusia dan proses bisnis tidak diperkuat sejak awal.
Ia menggambarkan pentingnya tata kelola melalui analogi keamanan rumah. Semakin banyak pintu dan akses yang dimiliki sebuah bisnis, semakin penting aturan mengenai siapa yang boleh masuk, ke ruangan mana, dan dengan akses seperti apa.
Ia juga menyoroti meningkatnya risiko akibat penggunaan AI, termasuk potensi AI lawan AI dalam serangan dan pertahanan siber. Pegadaian sendiri memperkuat keamanan melalui pengujian sistem, audit berkala, serta program awareness internal. “Step pertama cyber security adalah meng-awareness people,” katanya.
Melengkapi pandangan tersebut, Chairman CISSReC Pratama Persadha menegaskan bahwa ancaman yang semakin canggih ini tidak lagi dapat dihadapi dengan pendekatan tradisional, melainkan membutuhkan perubahan paradigma secara menyeluruh.
“Ketika musuhnya AI, ya kita susah ngadepinnya pakai cara-cara manual, jadi compliance harus diikuti proteksi dan security, yang ujungnya adalah resilience,” katanya.
Baca Juga: AI Bikin Ancaman Siber ke E-Commerce Meningkat, 6 Juta Serangan Phishing Berhasil Digagalkan
Dari sisi ekosistem teknologi finansial, AFTECH menambahkan bahwa kesiapan industri masih menghadapi kesenjangan, terutama pada pengelolaan risiko pihak ketiga dan optimalisasi penggunaan AI untuk keamanan.
Departemen AI AFTECH sekaligus Director of Government Relations Advance Intelligence Indonesia, Entin Rostini memaparkan berdasarkan temuan AMS 2025-2026, sebanyak 84% anggota telah mengadopsi AI, meski pemanfaatannya untuk keamanan siber masih terbatas.
“Padahal tadi Bapak-bapak semua menyampaikan PR kita ke depan serangannya sudah menggunakan AI. Why not? Itu kita untuk keamanan siber ini juga harus mencoba juga ditingkatkan nih dari 20%,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Fajar Sulaiman