Kredit Foto: SKK Migas
Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada Selasa (18/8/2026) setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin meredup. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent sempat naik hingga US$91,14 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$85,04 per barel. Keduanya merupakan level tertinggi sejak akhir Juli.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran menyatakan akan mengambil sikap militer yang gully offensive atau sepenuhnya ofensif, menyusul gagalnya upaya diplomatik untuk memperpanjang gencatan senjata dengan AS.
Amerika Serikat juga menolak memperpanjang gencatan senjata sementara. Perkembangan tersebut meningkatkan risiko terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi minyak melalui sejumlah jalur strategis di Timur Tengah.
Salah satu perhatian utama pasar adalah Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan turun tajam.
Hanya lima kapal tanker yang melintas pada Sabtu, sementara tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Sebagai pembanding, sebanyak 31 kapal tanker melintas pada akhir pekan sebelumnya.
Gangguan juga terjadi di kawasan Laut Merah setelah kelompok Houthi menyerang kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi. Situasi tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan dua jalur pelayaran strategis, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Negosiasi Masih Terbuka
Di tengah meningkatnya ketegangan, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Iran disebut masih melakukan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz dengan Oman.
Selain itu, terdapat laporan mengenai kemungkinan komunikasi melalui jalur belakang antara AS dan Iran yang melibatkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Namun, perkembangan tersebut belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.
Baca Juga: Prabowo Naikkan Asumsi Harga Minyak Mentah RI Jadi US$75 per Barel di RAPBN 2027
Baca Juga: Prabowo Turunkan Target Lifting Gas 2027, Minyak Tetap 610.000 Bph
Pasar minyak kini menghadapi dua risiko sekaligus, yakni kemungkinan gangguan pasokan akibat konflik dan hambatan distribusi akibat terganggunya lalu lintas kapal di jalur perdagangan utama.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah tekanan inflasi global. Di AS, harga bensin rata-rata telah menembus sekitar US$4,06 per galon, sehingga tingginya harga energi menjadi salah satu perhatian ekonomi dan politik bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: