Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kaspersky Ungkap AI Mulai Jadi Senjata Otonom Kejahatan Siber

Kaspersky Ungkap AI Mulai Jadi Senjata Otonom Kejahatan Siber Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kaspersky mengungkap evolusi penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam kejahatan siber. Jika pada 2022 AI lebih banyak digunakan sebagai alat bantu pengetahuan dan penulisan kode, pada 2025-2026 teknologi tersebut mulai terintegrasi dalam berbagai tahapan pengembangan malware, termasuk untuk melakukan serangan secara lebih otonom.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan perkembangan AI telah mengubah karakter ancaman siber secara cepat. Di Indonesia, penipuan berbasis AI telah berkontribusi terhadap kerugian sebesar Rp9,1 triliun.

“Kita sudah melihat hal ini terjadi di Indonesia. Gelombang penipuan berbasis AI yang berkontribusi terhadap kerugian sebesar Rp9,1 triliun tidak mengandalkan trik-trik sederhana. Penipuan tersebut menggunakan suara sintetis yang meniru orang-orang terdekat, identitas investasi palsu, dan pesan otomatis yang beroperasi dalam skala yang tidak mungkin dicapai oleh jaringan penipu manusia tanpa bantuan teknologi,” ujar Nezar Patria dalam ajang Kaspersky Academic Summit di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Kaspersky mencatat pergeseran pola serangan siber dalam beberapa tahun terakhir. AI yang sebelumnya digunakan sebagai asisten dalam pengembangan kode kini telah menjadi bagian dari alur kerja pengembangan malware yang lebih luas.

Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, mengatakan pelaku ancaman kini memanfaatkan AI dalam berbagai tahapan serangan, mulai dari pengintaian hingga pembuatan alat eksploitasi.

Perkembangan tersebut membuka ancaman agentic malware, yakni perangkat lunak jahat yang mampu menjalankan aktivitas secara otonom tanpa kendali penuh dari manusia.

“Evolusi ini mempertegas perlunya para profesional keamanan siber, peneliti, dan pendidik untuk memahami bagaimana AI diadopsi oleh pelaku ancaman, sehingga kita dapat memperkuat pertahanan dan bersiap menghadapi ancaman siber generasi berikutnya,” kata Ahmad Fareed.

Kaspersky juga mengidentifikasi sejumlah indikator teknis yang dapat digunakan untuk mengenali malware yang dibuat dengan bantuan AI. Indikator tersebut antara lain penggunaan komentar kode yang berlebihan, nama variabel yang terlalu umum, serta munculnya modul dan API yang bersifat "halusinasi" atau tidak nyata.

Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, mengatakan perkembangan kemampuan AI dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital meningkatkan kebutuhan terhadap kapasitas manusia dalam menghadapi ancaman siber.

“Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting. Mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis; hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat,” jelas Evgeniya.

Baca Juga: Indonesia Cyber Protection 2026 Dorong Industri Keuangan Perkuat Ketahanan Siber Berbasis Era AI

Baca Juga: AI Bikin Ancaman Siber ke E-Commerce Meningkat, 6 Juta Serangan Phishing Berhasil Digagalkan

Di Indonesia, pemerintah mendorong penerapan pendekatan Security by Design, yakni memasukkan aspek keamanan sejak tahap awal perancangan sistem digital.

Nezar mengatakan perlindungan siber berbasis AI perlu menjangkau pengguna hingga tingkat akar rumput, termasuk pengguna kartu SIM di wilayah perdesaan. Upaya tersebut mencakup pembangunan infrastruktur antipenipuan nasional yang dapat diakses publik serta sistem verifikasi berbantuan AI ketika masyarakat melakukan transaksi.

“Kita juga perlu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil untuk memperkuat kemampuan menghadapi ancaman siber berbasis AI,” pungkas Nezar.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri