Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Anak UI Itu Cerdas', Mahfud MD Singgung Keras Kalangan Elite Munafik

'Anak UI Itu Cerdas', Mahfud MD Singgung Keras Kalangan Elite Munafik Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Aksi mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) yang menggaungkan tagar #MerebutKemerdekaan mendapat sorotan dari mantan Menkopolhukam Mahfud MD. Ia mengaku sepakat dengan kritik yang disuarakan mahasiswa dalam demonstrasi di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (18/8/2026) lalu itu. 

Bagi Mahfud, aksi yang berlangsung sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut bukan sekadar hardikan kepada pemerintah maupun elite.

Menurutnya, pesan yang dibawa mahasiswa berkaitan dengan persoalan yang memang masih dirasakan masyarakat, mulai dari kebebasan hingga kondisi sosial-ekonomi dan kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan makna kemerdekaan.

Baca Juga: Eks Kader PSI: Kita Semua Harus Tahu Gibran Memang Tidak Pernah Lulus SMA

Mahfud bahkan menilai pemilihan istilah "merebut kemerdekaan" oleh mahasiswa UI memiliki makna yang kuat. Kemerdekaan Indonesia secara formal memang telah diperoleh, tetapi menurutnya, esensinya belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh rakyat akibat ketidakadilan.

“Anak UI itu cerdas ketika mengatakan merampas atau merebut kemerdekaan. Karena kita merdeka, tapi sudah terampas,” katanya, dikutip dari akun YouTube miliknya, Jumat (21/6/2026).

Ia menjelaskan, Indonesia secara konstitusional telah merdeka, bersatu, dan berdaulat. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat seluruh masyarakat merasakan manfaat kemerdekaan secara nyata.

"Tagar ini seperti hardikan kasar kepada kita, tetapi substansinya memang tidak salah. Secara formal, konstitusional kita memang sudah merdeka, sudah bersatu, sudah berdaulat. Tetapi secara riil esensi kemerdekaan itu belum dirasakan oleh rakyat banyak karena terjadinya ketidakadilan," terang Mahfud.

Baca Juga: Wapres Gibran: Saya Memohon Maaf yang Sebesar-besarnya

Sorotan Mahfud kemudian mengarah kepada perilaku sebagian elite. Ia menilai terdapat kontradiksi ketika ada pihak yang lantang mengajak masyarakat hidup sederhana dan mengedepankan empati, tetapi justru menjalani gaya hidup mewah.

"Munafik, pada satu sisi berteriak tentang perlunya hidup sederhana demi rakyat, demi pemerataan, demi empati. Tetapi pada sisi lain, hidupnya berfoya-foya, berpesta sampai ke luar negeri sekalipun hanya untuk berfoya-foya, hedon," ujarnya.

Menurut Mahfud, kritik mahasiswa tersebut juga menjadi pengingat bahwa persoalan bangsa tidak cukup dilihat hanya dari pencapaian pembangunan selama 81 tahun. Ia menegaskan, Indonesia memang mengalami banyak kemajuan sejak merdeka, tetapi masih terdapat kekurangan yang perlu dibenahi.

"Jembatan emas berupa kemerdekaan, alhamdulillah kita sudah maju dan maju dengan begitu baiknya. Setiap periode kepemimpinan selalu menambah kemajuan baru, meski tentu saja ada kekurangan-kekurangannya juga," ungkap Mahfud.

Meski melontarkan kritik tajam, Mahfud meminta masyarakat tidak kehilangan harapan. Ia mengajak rakyat tetap peduli terhadap masa depan Indonesia dan tidak menyerah dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada.

“Kita tidak boleh berputus asa. Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia,” katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri