Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Memasuki usia sekolah dasar, mayoritas anak Indonesia berhenti minum susu. Perubahan pola konsumsi ini perlu menjadi perhatian orang tua, terutama karena kecukupan DHA penting untuk mendukung perkembangan dan fungsi otak anak.
Sebuah fakta mengejutkan yang patut menjadi perhatian orang tua, sekitar 8 dari 10 anak Indonesia usia 4–12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah tingkat minimum yang direkomendasikan FAO/WHO, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada tahun 2016.
Padahal, DHA sebagai salah satu asam lemak omega-3 memiliki peran penting dalam perkembangan dan fungsi sistem saraf, termasuk otak. Temuan ini menjadi semakin relevan ketika kebiasaan dan pilihan makanan dan minuman anak yang memasuki usia sekolah mulai berubah.
Ketika anak memasuki jenjang sekolah dasar, umumnya di rentang usia 7 hingga 12 tahun, preferensi minuman mereka berubah drastis. Minuman bercita rasa seperti minuman cokelat, teh kemasan, hingga minuman ringan menjadi pilihan utama, sementara susu yang selama ini menjadi sumber utama nutrisi penting mulai ditinggalkan.
Padahal, susu selama ini dikenal sebagai salah satu sumber DHA yang mudah dikonsumsi oleh anak-anak. Ketika konsumsi susu turun drastis, asupan DHA pun ikut merosot sementara kebutuhan otak anak di usia ini justru tengah berada di puncaknya.
“Kecukupan asam lemak esensial Arachidonic Acid (AA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) tetap penting bagi anak usia sekolah dan remaja untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak,"ungkap dr. Shyrien Amalina MSc, SpA, Dokter Spesialis Anak, Senin (24/8/2026)
Menurutnya, meski perkembangan otak berlangsung paling pesat pada 1.000 hari pertama kehidupan, proses mielinisasi korteks prefrontal—yang berperan dalam atensi, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls masih terus berlangsung hingga masa remaja.
"Oleh karena itu, asupan AA dan DHA yang memadai dapat mendukung fungsi eksekutif, konsentrasi, regulasi perilaku dan emosi, serta plastisitas sinaptik yang berperan dalam proses belajar dan memori” ungkapnya
Menurut data yang dihimpun oleh berbagai lembaga kesehatan anak, defisiensi DHA pada anak usia sekolah dapat mempengaruhi kemampuan belajar, daya ingat, hingga regulasi emosi. Ironisnya, kondisi ini seringkali tidak menampakkan gejala yang jelas sehingga orang tua kerap tidak menyadarinya
"Dalam memilih minuman anak, orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai, tetapi juga kandungan nutrisinya. Rasa memang memengaruhi penerimaan anak, sehingga pilihan minuman bernutrisi, termasuk yang mengandung DHA, idealnya tetap hadir dalam format yang dapat diterima dan dinikmati anak tanpa paksaan,” tambah dr. Shyrien
Baca Juga: MPLS Dimulai, Sekolah Rakyat Terintegrasi Bogor Siap Tampung 1.080 Siswa
Baca Juga: Jalan Rusak, Sekolah Ambruk, BPJS Mandek: Dedi Mulyadi Ungkap PR Jawa Barat
Edukasi kepada orang tua juga menjadi kunci. Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa peralihan anak dari susu ke minuman lain secara diam-diam telah memutus asupan DHA yang sangat penting bagi perkembangan otak anak. Pemahaman ini perlu disebarluaskan agar orang tua dapat mengambil langkah proaktif dalam memastikan kecukupan gizi otak anak mereka.
Masalah kekurangan DHA pada anak Indonesia bukan sekadar isu gizi individual ini adalah isu generasi. Anak-anak yang tumbuh dengan kecukupan DHA yang optimal memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang menjadi generasi yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing tinggi.
Orang tua, tenaga kesehatan, dan pelaku industri pangan diharapkan dapat bersinergi untuk menciptakan ekosistem gizi yang mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia termasuk memastikan tersedianya pilihan minuman yang tidak hanya disukai anak, tetapi juga kaya akan nutrisi esensial yang mereka butuhkan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: