Kredit Foto: Istimewa
Presiden Prabowo Subianto menegaskan ambisi pemerintah untuk menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Ia bahkan menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor minyak maupun LPG dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meluncurkan dan melakukan groundbreaking program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) di Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).
“Kita tidak boleh impor lagi satu barrel pun minyak,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Prabowo mengatakan target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah sumber energi domestik yang dapat dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Ia menyebut pengembangan PLTS 100 GW, panas bumi, ladang gas, hingga peningkatan produksi minyak menjadi bagian dari strategi tersebut.
“Dengan 100 GW, dengan geothermal yang kita punya, dengan ladang-ladang gas yang sudah kita temukan, dengan lifting minyak yang harus naik terus,” ujarnya.
Prabowo juga menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor LPG.
Baca Juga: Prabowo Gaspol PLTS 100 GWp, RI Bidik Hemat Devisa US$4,5 Miliar per Tahun
“Insyaallah dalam waktu sesingkat-singkatnya, satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi,” tegasnya.
PLTS 100 GW Jadi Andalan
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menekankan besarnya skala pembangunan PLTS yang tengah dikejar pemerintah. Ia membandingkan target 100 GW PLTS dengan total kapasitas listrik Indonesia saat ini yang disebutnya mencapai sekitar 88 GW.
“Seluruh listrik Indonesia sekarang 88 GW. Kita akan membangun 100 GW,” kata Prabowo.
Pemerintah sebelumnya menyatakan pembangunan PLTS 100 GWp dipercepat dan ditargetkan rampung pada 2029. Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan 30 GWp sekaligus menghentikan 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara yang sama menyebut investasi untuk pembangunan PLTS 100 GWp diperkirakan mencapai sekitar US$73 miliar atau sekitar Rp1.147 triliun. Program tersebut juga diproyeksikan menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja dan menghasilkan efisiensi biaya listrik sekitar Rp73,9 triliun per tahun.
Bahlil juga mengatakan pengembangan PLTS secara masif dapat membantu menekan penggunaan solar untuk pembangkit listrik. Pemerintah mencatat masih terdapat sekitar 12,6 GW pembangkit yang menggunakan solar.
Bagi Prabowo, pengembangan energi domestik menjadi bagian penting untuk memastikan Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak mudah terpengaruh gejolak energi global.
Baca Juga: Bahlil Beberkan Potensi PLTS 100 GWp: Bisa Ciptakan 5,52 Juta Lapangan Kerja
“Kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tidak akan takut perkembangan apa pun di bagian mana pun dunia,” ujar Prabowo.
Ia pun meminta jajaran Kabinet Merah Putih bekerja cepat untuk mengejar target tersebut. Prabowo awalnya menargetkan 100 GW PLTS selesai dalam tiga tahun, tetapi kemudian mendorong tim energi agar dapat merealisasikannya dalam waktu dua tahun.
“Kalau berhasil dua tahun, tim energi dapat bintang lagi,” kata Prabowo.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman