Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Malaysia Bikin Baterai NMC dari Riset dan NIkel RI, Bidik Motor EV Indonesia

Malaysia Bikin Baterai NMC dari Riset dan NIkel RI, Bidik Motor EV Indonesia Kredit Foto: Istimewa

Jadi Indonesia punya gigafactory yang berjalan dengan teknologi asing, sementara teknologi buatan sendiri belum menemukan rumah di dalam negeri. Belum jelas apakah fasilitas Karawang dirancang bisa dipakai memvalidasi material riset lokal, atau memang hanya untuk produksi massal dengan resep pemiliknya.

Evvy tidak menyebut ini sebagai kekalahan. Dia menyebutnya taktik.

"Saya itu cuma pancing-pancing saja sih, kalau Malaysia saja mau menerima masa sih Indonesia nggak," katanya. "Habis di Indonesia belum ada sih."

Kalimat itu diucapkan ketika ditanya mengapa temuan NBRI tidak diintegrasikan ke hilirisasi di dalam negeri. Ambisi aslinya jelas: NBRI ingin punya pilot line sendiri di Indonesia, agar sel baterai dari materialnya bisa dibuat di tanah yang menyediakan bahannya.

Di sisi Malaysia, pembagian kerja itu dijelaskan tanpa ambiguitas oleh CEO NanoMalaysia Berhad Rezal Khairi Ahmad. Nikel yang sudah diproses di Indonesia digabungkan dengan kobalt dan mangan menjadi katoda, lalu disatukan dengan teknologi nano graphene Malaysia.

"Bahan dari Indonesia, bahan teknologi Indonesia dan teknologi baterai sel daripada Malaysia," kata Rezal.

Graphene itu, menurut dia, dipakai untuk memperbaiki manajemen panas NMC yang secara umum lebih rentan dibanding kimia LFP. Rezal mengklaim jarak keselamatan keduanya kini hampir setara — klaim yang belum diuji pihak ketiga.

Sebab Baterai Nusantara memang masih prototipe. Dua unit ditampilkan di ASEAN Battery Technology Conference ke-4 di Sepang, dengan spesifikasi teknis seperti densitas energi belum dipublikasikan.

"Prototipe-nya baru dibina dua minggu lepas," ujar Rezal.

Target pemasarannya 12 hingga 18 bulan, dengan enam bulan ke depan untuk validasi keselamatan. Sasaran pertama: motor listrik, karena secara teknis lebih mudah dikuasai dibanding kendaraan roda empat.

"Kita mula dengan dua roda dahulu," katanya.

Lalu pasar yang dibidik termasuk Indonesia — negara yang menyumbang bahan bakunya. Soal kemungkinan memasok Molinas, Rezal menyebut hal itu baru tahap perencanaan awal, belum ada kesepakatan.

Rezal sendiri menempatkan kolaborasi ini sebagai upaya kawasan menghadapi dominasi China. Pilihan NMC, katanya, mengikuti kekayaan sumber daya di Indonesia dan Filipina.

Baca Juga: Insentif EV Berbasis Nikel Dikaji, Pengamat Soroti Harga dan Keamanan Baterai

Baca Juga: Indonesia Punya 46% Cadangan Nikel Dunia, Rosan Pastikan Molinas Pakai Baterai Lokal

Sementara pasar dalam negeri terus membesar. Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai naik dari 16.926 unit menjadi 33.146 unit per Maret 2026.

Baterai Nusantara memang belum ada di pasar. Tapi jalur perjalanannya sudah lengkap sebagai cerita: nikel Indonesia, riset Indonesia, dikirim ke Malaysia untuk jadi sel, lalu ditawarkan kembali ke pasar Indonesia.

Yang tidak dimiliki Indonesia dalam rantai itu ternyata bukan tambang, bukan ilmuwan, bukan pabrik, dan bukan pembeli. Hanya satu jembatan kecil di tengahnya.

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra