Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Malaysia Bikin Baterai NMC dari Riset dan NIkel RI, Bidik Motor EV Indonesia

Malaysia Bikin Baterai NMC dari Riset dan NIkel RI, Bidik Motor EV Indonesia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia. Punya lembaga riset yang sudah menguasai pembuatan katoda. Punya pabrik sel baterai raksasa di Karawang. Punya pasar kendaraan listrik yang tumbuh dua kali lipat.

Tapi ketika material katoda hasil riset lembaga Indonesia harus diubah menjadi sel baterai, material itu dikirim ke Malaysia.

Sel yang dihasilkan diberi nama Baterai Nusantara — lithium-ion berbasis nickel-manganese-cobalt (NMC) yang diperkaya graphene. Katodanya dikembangkan National Battery Research Institute (NBRI) Indonesia. Selnya dirakit NanoMalaysia Berhad melalui anak usahanya, Gigafactory Malaysia Sdn Bhd (GMSB).

Pendiri NBRI Evvy Kartini tidak menutupi alasannya.

"Kebetulan pilot-nya ada di Malaysia, dikirim nih bahannya ke Malaysia kemudian dibuat baterai di Malaysia," kata Evvy.

Pertanyaannya kemudian: sebesar apa fasilitas yang tidak dimiliki Indonesia itu?

Pabrik GMSB berdiri di Suria Industrial Park, Sepang, seluas 15.000 kaki persegi. Biaya pembangunannya sekitar RM20 juta. Kapasitas penuhnya sekitar 1 MWh per tahun.

Satu megawatt-jam. Sementara pabrik sel baterai di Karawang dirancang berkapasitas awal 6.900 MWh, dan akan ditingkatkan hingga 15.000 MWh.

Artinya, Indonesia membangun fasilitas ribuan kali lebih besar, tetapi material risetnya sendiri tetap menyeberang ke bengkel seukuran dua lapangan bulu tangkis di seberang Selat Malaka.

Yang hilang bukan kapasitas. Yang hilang adalah anak tangga di antaranya — fasilitas skala kecil tempat material riset diuji dan divalidasi sebelum layak masuk produksi massal. Dalam industri baterai, tahap itu disebut pilot line, dan tanpa itu hasil laboratorium tidak punya jalan menuju pabrik.

"Kita nggak perlu langsung bikin Giga Watt Hour tapi kita perlu bridging antara material ini ke sana," ujar Evvy.

Pendiri NBRI Evvy Kartini

Ada lapisan lain yang membuat situasi ini makin terasa timpang. Pabrik di Karawang, PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), adalah perusahaan patungan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan konsorsium CBL — afiliasi raksasa baterai China, CATL. Teknologinya datang dari luar.

Jadi Indonesia punya gigafactory yang berjalan dengan teknologi asing, sementara teknologi buatan sendiri belum menemukan rumah di dalam negeri. Belum jelas apakah fasilitas Karawang dirancang bisa dipakai memvalidasi material riset lokal, atau memang hanya untuk produksi massal dengan resep pemiliknya.

Evvy tidak menyebut ini sebagai kekalahan. Dia menyebutnya taktik.

"Saya itu cuma pancing-pancing saja sih, kalau Malaysia saja mau menerima masa sih Indonesia nggak," katanya. "Habis di Indonesia belum ada sih."

Kalimat itu diucapkan ketika ditanya mengapa temuan NBRI tidak diintegrasikan ke hilirisasi di dalam negeri. Ambisi aslinya jelas: NBRI ingin punya pilot line sendiri di Indonesia, agar sel baterai dari materialnya bisa dibuat di tanah yang menyediakan bahannya.

Di sisi Malaysia, pembagian kerja itu dijelaskan tanpa ambiguitas oleh CEO NanoMalaysia Berhad Rezal Khairi Ahmad. Nikel yang sudah diproses di Indonesia digabungkan dengan kobalt dan mangan menjadi katoda, lalu disatukan dengan teknologi nano graphene Malaysia.

"Bahan dari Indonesia, bahan teknologi Indonesia dan teknologi baterai sel daripada Malaysia," kata Rezal.

Graphene itu, menurut dia, dipakai untuk memperbaiki manajemen panas NMC yang secara umum lebih rentan dibanding kimia LFP. Rezal mengklaim jarak keselamatan keduanya kini hampir setara — klaim yang belum diuji pihak ketiga.

Sebab Baterai Nusantara memang masih prototipe. Dua unit ditampilkan di ASEAN Battery Technology Conference ke-4 di Sepang, dengan spesifikasi teknis seperti densitas energi belum dipublikasikan.

"Prototipe-nya baru dibina dua minggu lepas," ujar Rezal.

Target pemasarannya 12 hingga 18 bulan, dengan enam bulan ke depan untuk validasi keselamatan. Sasaran pertama: motor listrik, karena secara teknis lebih mudah dikuasai dibanding kendaraan roda empat.

"Kita mula dengan dua roda dahulu," katanya.

Lalu pasar yang dibidik termasuk Indonesia — negara yang menyumbang bahan bakunya. Soal kemungkinan memasok Molinas, Rezal menyebut hal itu baru tahap perencanaan awal, belum ada kesepakatan.

Rezal sendiri menempatkan kolaborasi ini sebagai upaya kawasan menghadapi dominasi China. Pilihan NMC, katanya, mengikuti kekayaan sumber daya di Indonesia dan Filipina.

Baca Juga: Insentif EV Berbasis Nikel Dikaji, Pengamat Soroti Harga dan Keamanan Baterai

Baca Juga: Indonesia Punya 46% Cadangan Nikel Dunia, Rosan Pastikan Molinas Pakai Baterai Lokal

Sementara pasar dalam negeri terus membesar. Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai naik dari 16.926 unit menjadi 33.146 unit per Maret 2026.

Baterai Nusantara memang belum ada di pasar. Tapi jalur perjalanannya sudah lengkap sebagai cerita: nikel Indonesia, riset Indonesia, dikirim ke Malaysia untuk jadi sel, lalu ditawarkan kembali ke pasar Indonesia.

Yang tidak dimiliki Indonesia dalam rantai itu ternyata bukan tambang, bukan ilmuwan, bukan pabrik, dan bukan pembeli. Hanya satu jembatan kecil di tengahnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra