Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bill Gates Cemas, Dunia Belum Siap Hadapi Gelombang PHK Akibat AI

Bill Gates Cemas, Dunia Belum Siap Hadapi Gelombang PHK Akibat AI Kredit Foto: Youtube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pendiri Microsoft Bill Gates memperingatkan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menghilangkan banyak pekerjaan manusia seiring kemampuan teknologi tersebut menjalankan hingga melampaui sejumlah tugas kognitif manusia.

Gates menilai perkembangan AI akan mengubah struktur ketenagakerjaan secara signifikan. Dampaknya, menurut dia, kemungkinan pertama kali dirasakan pada pekerjaan kerah putih sebelum meluas ke pekerjaan kerah biru.

"Banyak pekerjaan akan hilang, dimulai dari pekerjaan kerah putih, kemudian disusul pekerjaan kerah biru," ujar Gates, dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (28/8/2026).

Gates melihat AI sebagai teknologi yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, AI berpotensi menjadi alat yang kuat untuk memperluas pemerataan. Namun, di sisi lain, teknologi tersebut dapat menjadi ancaman terhadap pemerataan apabila manfaatnya tidak diikuti kesiapan masyarakat dan dunia kerja.

"AI adalah alat paling kuat untuk mendorong pemerataan sekaligus ancaman terbesar terhadap pemerataan yang pernah diciptakan manusia," kata Gates.

Menurut Gates, kemampuan AI untuk menggantikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan kognitif manusia akan mendorong perubahan besar di pasar tenaga kerja. Otomatisasi dapat membuat sejumlah fungsi pekerjaan tidak lagi membutuhkan jumlah tenaga kerja seperti sebelumnya.

Persoalannya, Gates menilai dunia belum memiliki persiapan yang memadai untuk menghadapi perubahan tersebut. Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dinilai belum mempunyai strategi yang jelas untuk membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan tenaga kerja.

"Saya khawatir kita belum mempersiapkan diri," kata Gates.

Ia bahkan menilai belum terdapat rencana konkret untuk memperlancar transisi masyarakat menuju era AI. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan apabila laju otomatisasi lebih cepat dibandingkan kemampuan tenaga kerja dan institusi untuk beradaptasi.

"Belum ada rencana untuk mempermudah transisi menuju era AI, bahkan belum ada rencana untuk membuat rencana," ujarnya.

Gates memperingatkan bahwa ketidaksiapan menghadapi perubahan tersebut dapat meningkatkan risiko pengangguran dan tekanan sosial di berbagai komunitas. Karena itu, ia mendorong tindakan lebih awal sebelum dampak otomatisasi terhadap pasar tenaga kerja semakin besar.

"Dunia masih memiliki kesempatan untuk bertindak sekarang, sebelum pengangguran meningkat tajam, masyarakat di berbagai komunitas menderita, dan kepercayaan publik terkikis," kata Gates.

Baca Juga: Komdigi dan OJK Mau Uji AI di Sektor Keuangan, Ada 'Sandbox' Lintas Industri

Baca Juga: Awas!! Ini Bahaya Terlalu Andalkan AI untuk Investasi

Peringatan tersebut menempatkan perkembangan AI bukan hanya sebagai persoalan teknologi, tetapi juga sebagai tantangan ekonomi dan ketenagakerjaan. Perubahan kebutuhan keterampilan menjadi salah satu konsekuensi yang perlu diantisipasi ketika perusahaan semakin mengadopsi otomatisasi berbasis AI.

Gates menilai kesempatan untuk mengantisipasi perubahan tersebut masih terbuka. Persiapan tenaga kerja dan kebijakan transisi menjadi penting agar manfaat peningkatan produktivitas dari AI tidak diikuti pelebaran kesenjangan antara pekerja yang mampu beradaptasi dan mereka yang kehilangan pekerjaan tanpa memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi baru.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: