Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dari Perut Bumi Sumbawa, Menggali Harapan untuk Masa Depan Indonesia

Dari Perut Bumi Sumbawa, Menggali Harapan untuk Masa Depan Indonesia Kredit Foto: AMMAN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pagi belum sepenuhnya terang ketika cahaya matahari menyentuh perbukitan di ujung barat Pulau Sumbawa. Di sebuah rumah tak jauh dari kawasan tambang Batu Hijau, Evan Sahri Rajab bersiap mengenakan seragam kerjanya.

Bagi sebagian orang, merapikan kerah baju, memastikan tali sepatu safety terikat, lalu berangkat bekerja mungkin hanya menjadi rutinitas harian. Namun bagi Evan, seragam itu menyimpan cerita panjang tentang sebuah pilihan hidup.

Delapan tahun lalu, sebelum seragam itu menjadi bagian dari hidupnya, Evan hanyalah seorang lulusan SMA yang berdiri di persimpangan jalan.

Seperti banyak anak muda di Sumbawa Barat, ia dihadapkan pada dua pilihan: meninggalkan kampung halaman untuk mengejar peluang di tempat lain, atau tetap tinggal sambil menunggu kesempatan datang menghampiri.

Di satu sisi, ada keinginan untuk membangun masa depan. Di sisi lain, ada keluarga, tanah kelahiran, dan rumah yang ingin tetap ia dekatkan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah: Apakah masa depan harus selalu dicari jauh dari tanah kelahiran?

Namun pada 2018, sebuah kesempatan datang ketika PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) kembali membuka ruang bagi tenaga kerja lokal. Evan memilih mengambil kesempatan tersebut.

Keputusan itu perlahan mengubah perjalanan hidupnya.

Bekerja di industri mineral memberinya kesempatan untuk tetap berada di tanah kelahiran, membantu keluarga, sekaligus mengembangkan kemampuan melalui pengalaman kerja.

“Saya melihat AMMAN memberikan kesempatan yang sangat besar bagi kami, masyarakat lokal, untuk bekerja dan menggantungkan harapan. Bisa bekerja di tanah kelahiran sendiri, menafkahi keluarga, dan terus diberi ruang untuk belajar adalah berkah yang saya syukuri,” ujar Evan kepada Warta Ekonomi saat dihubungi secara daring, Senin, (31/8/2026).

Evan Sahri Rajab, salah satu pekerja lokal di ekosistem Batu Hijau, menjadi bagian dari komitmen AMMAN membuka peluang kerja dan membangun sumber daya manusia di Sumbawa Barat.

Cerita Evan hanyalah satu kisah dari perubahan yang lebih luas di ujung barat Pulau Sumbawa.

Di balik aktivitas tambang Batu Hijau, terdapat transformasi ekonomi yang bergerak melalui berbagai lapisan: penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya usaha masyarakat, pengolahan mineral bernilai tambah, hingga upaya menghadirkan praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab.

Dari Lapangan Kerja Lokal Menuju Ekosistem Ekonomi

Perubahan yang dirasakan Evan tidak berdiri sendiri.

Ia tumbuh dari sebuah ekosistem industri yang telah berkembang selama puluhan tahun di Kabupaten Sumbawa Barat.

Keberadaan industri mineral tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga membuka ruang partisipasi masyarakat lokal dalam rantai ekonomi perusahaan.

Melansir laporan perusahaan, lebih dari separuh pekerja internal AMMAN merupakan putra-putri asli Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), dengan komposisi sekitar 52,74 hingga 53 persen.

Ketika proyek smelter dan seluruh rantai operasional AMMAN bersama mitranya berjalan penuh, sekitar 37.000 orang bergantung pada ekosistem tersebut untuk mencari nafkah.

Baca Juga: Aksi Beli Investor Asing Capai Rp648,2 Miliar di Sesi I, AMMN Paling Banyak Diborong

Dari jumlah tersebut, sekitar 36.260 orang atau 98 persen merupakan tenaga kerja lokal Indonesia, dengan pekerja asal NTB mencapai 35.776 orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas AMMAN tidak berhenti di area tambang. Dampaknya menjalar melalui berbagai sektor yang menopang kehidupan masyarakat.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, I Gede Putu Aryadi, melihat keberadaan proyek strategis AMMAN memberikan peluang lebih luas bagi tenaga kerja daerah.

“Untuk yang middle skill pasti orang NTB, karena dia lebih efisien. Kalau untuk pekerja asing, bisa kami pantau, karena izin bekerjanya ada, jadi mudah kami pantau keluar masuknya,” ujar I Gede Putu Aryadi.

Diolah Warta Ekonomi

Batu Hijau: Dari Kekayaan Alam Menuju Nilai Tambah Indonesia

Perjalanan Batu Hijau tidak muncul dalam waktu singkat.

Jejaknya bermula sejak tambang ini memasuki tahap produksi komersial pada tahun 2000 melalui PT Newmont Nusa Tenggara. Selama bertahun-tahun, Batu Hijau berkembang menjadi salah satu aset mineral strategis Indonesia dengan kandungan tembaga dan emas yang bernilai penting bagi industri nasional.

Babak baru dimulai pada 2016 ketika AMMAN mengambil alih pengelolaan Tambang Batu Hijau. Langkah tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan industri mineral Indonesia, ketika salah satu tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia berada di bawah pengelolaan perusahaan dalam negeri.

AMMAN sendiri resmi berdiri sejak September 2015 sebagai perusahaan induk yang menaungi sejumlah anak usaha, termasuk PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), PT Amman Mineral Integrasi (AMIG), PT Amman Mineral Industri (AMIN), dan PT Amman Nusantara Gas (ANG).

Bersama entitas afiliasinya, AMMAN mengelola wilayah konsesi seluas 25.000 hektare yang mencakup Tambang Batu Hijau hingga Proyek Elang di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Hingga 31 Desember 2025, perjalanan panjang Batu Hijau telah menghasilkan 10,364 juta pon tembaga dan 10,9 juta ons emas secara kumulatif, menjadikannya salah satu bagian penting dalam rantai nilai mineral Indonesia.

Alat berat beroperasi di pit Batu Hijau membawa bijih berisi tembaga dan emas (Foto: AMMAN)

Ketika Aktivitas Tambang Menggerakkan Ekonomi Daerah

Cerita Batu Hijau tidak hanya berbicara tentang berapa banyak mineral yang dihasilkan dari perut bumi.

Lebih jauh, aktivitas industri mineral telah menciptakan pergerakan ekonomi yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tenaga kerja, pemasok, pelaku usaha lokal, hingga sektor jasa.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pun saat ini tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan tapi juga terus berupaya menggenjot pertumbuhan sektor lain agar ikut berkembang.

“Sekitar 80 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kami masih bergantung pada sektor pertambangan. Tapi sektor non-tambang di Sumbawa Barat juga mengalami pertumbuhan positif, rata-rata 7 hingga 8 persen per tahun, di atas rata-rata nasional,” kata Bupati Sumbawa Barat, Amar Nurmansyah dalam keterangannya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pertambangan masih menjadi kontributor terbesar terhadap ekonomi Sumbawa Barat, dengan kontribusi mencapai 69,68 persen terhadap PDRB KSB pada 2025.

Baca Juga: Bursa Mineral Tinggal Hitung Mundur, OJK Siapkan Pengawasan Penuh Mulai Januari 2027

Namun dampak ekonomi AMMAN tidak berhenti di tingkat daerah.

Studi dampak LPEM FEB UI menunjukkan aktivitas AMMAN sepanjang 2018–2024 memberikan kontribusi Rp173,4 triliun terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan mendorong pendapatan rumah tangga hingga Rp67,6 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas industri mineral memiliki efek ekonomi yang menjangkau lebih luas dari wilayah operasi.

Diolah Warta Ekonomi

Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, melihat dampak tersebut sebagai efek berganda yang muncul dari kebutuhan operasional perusahaan.

“Kegiatan operasional AMMAN menciptakan rangkaian efek berganda yang luas. Misalnya, kebutuhan penyediaan makanan bagi ribuan karyawan turut menghidupkan usaha para petani, peternak, dan penyedia bahan pangan lokal. Begitu pula dengan kebutuhan logistik dan jasa lainnya yang membuka kesempatan kerja di berbagai sektor dan wilayah,” ungkap Uka Wikarya dalam keterangan. 

Dari Mineral Mentah Menuju Industri Bernilai Tambah

Cerita Batu Hijau memasuki babak baru ketika mineral tidak lagi hanya ditambang, tetapi juga diolah dan dimurnikan di dalam negeri.

Pada September 2024, Presiden ke-7 RI Joko Widodo meresmikan Proyek Strategis Nasional (PSN) fasilitas smelter tembaga dan pemurnian logam mulia milik PT Amman Mineral Internasional Tbk di Kabupaten Sumbawa Barat.

Pembangunan fasilitas tersebut menelan investasi hingga Rp21 triliun dan dirancang menggunakan teknologi double flash cyclone.

Smelter tersebut memiliki kapasitas input mencapai 900.000 metrik ton konsentrat per tahun, dengan target produksi sekitar 220.000 ton katoda tembaga murni, serta menghasilkan produk sampingan berupa emas dan perak.

Hilirisasi ini menjadi bagian dari agenda besar Indonesia untuk memastikan kekayaan mineral tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi di dalam negeri.

Baca Juga: Produksi Emas EMAS Melonjak, Proyek CIL 12 Mtpa Tambang Pani Berjalan Sesuai Rencana

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya alam oleh bangsa sendiri.

“Segala kekayaan kita, tantangannya adalah harus dikelola oleh kita dengan sebaik-baiknya. Dengan secerdas-cerdasnya,” tegas Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga menekankan bahwa pembangunan industri dalam negeri menjadi kunci menciptakan nilai tambah.

“Memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri dalam negeri dan industri dalam negeri itu menciptakan nilai tambah kemudian untuk bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi,” tandas Bahlil Lahadalia.

Diolah Warta Ekonomi

Di Nusa Tenggara Barat, arah kebijakan tersebut mulai terlihat melalui perubahan struktur ekonomi daerah.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi NTB mencatat sektor industri pengolahan tumbuh 76,37 persen pada 2025. Kontribusinya terhadap PDRB NTB juga meningkat dari 3,87 persen pada 2024 menjadi 6,69 persen pada 2025.

Melalui hilirisasi, Batu Hijau tidak lagi hanya berbicara tentang aktivitas pertambangan, tetapi tentang bagaimana Indonesia membangun kemampuan mengolah sumber dayanya sendiri.

Smelter dan Transformasi Wajah Pertambangan Indonesia

Pembangunan fasilitas pengolahan AMMAN menjadi bagian dari perubahan wajah industri pertambangan Indonesia.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW), Ferdy Hasiman, menilai investasi hilirisasi tersebut memiliki dampak penting tidak hanya bagi daerah, tetapi juga bagi perekonomian nasional.

“Mereka (AMMAN) itu sudah investasi besar untuk hilirisasi, makanya kita harus terus dukung operasi mereka, jangan dibebankan dengan peraturan-peraturan dan kebijakan yang memberatkan. Biar produksi mereka bagus dan multiplier effect mereka itu gede,” ujar papar kepada Warta Ekonomi, Minggu (30/8/2026).

Dari sisi parlemen, anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya melihat pembangunan smelter AMMAN sebagai implementasi kebijakan pemurnian mineral di dalam negeri.

“Kebijakan hilirisasi mineral di dalam negeri merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil pengolahan dan atau pemurnian mineral. Adanya kewajiban untuk melakukan pengolahan dan atau pemurnian di dalam negeri telah diikuti oleh perusahaan dengan adanya pembangunan smelter yang dilakukan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara,” ujar Bambang Patijaya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dan PT Freeport Indonesia, Selasa (15/7/2026).

Fasilitas smelter Amman Mineral Industri (AMIN) menjadi bagian penting dari rantai nilai tersebut.

Dengan teknologi double flash, fasilitas ini tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga mengolah emisi sulfur dioksida menjadi asam sulfat yang memiliki nilai industri.

Sepanjang fase commissioning dan ramp-up pada 2025, fasilitas tersebut menghasilkan:79.849 ton katoda tembaga dan 421.879 ton asam sulfat.

Sementara fasilitas Precious Metals Refinery (PMR) menghasilkan emas murni, perak murni, serta selenium.

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra