Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

CELIOS Hitung Kerugian Ekonomi dari Karhutla Bisa Capai Rp123 Triliun

CELIOS Hitung Kerugian Ekonomi dari Karhutla Bisa Capai Rp123 Triliun Kredit Foto: Antara/Nova Wahyudi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Center for Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan total kerugian ekonomi akibat karhutla sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.

Direktur Ekonomi, CELIOS Nailul Huda, menjelaskan angka tertinggi tersebut bahkan belum memperhitungkan kemungkinan karhutla meluas hingga akhir tahun.

“Angka Rp123,1 triliun ini setara 49,1% dari proyeksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah tahun 2026, dan yang perlu digaris bawahi, angka ini belum menghitung skenario meluasnya karhutla hingga akhir tahun. Artinya, potensi kerugian riil bisa jauh lebih besar dari yang kami sampaikan hari ini,” jelas Huda, Selasa (1/9/2026).

Huda menjelaskan, CELIOS memperkirakan kerugian ekonomi akibat hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi mencapai Rp29,54 triliun atau setara 0,23% dari produk domestik bruto (PDB) nasional.

Perhitungan tersebut menggunakan pendekatan yang dikembangkan Kiely dan kolega dalam jurnal Nature Communications pada 2021, yang kemudian dikombinasikan dengan data historis Bank Dunia mengenai krisis karhutla 2015 dan 2019.

“Angka ini bukan sekadar nilai kayu atau lahan yang hangus, melainkan kontraksi aktivitas ekonomi yang lebih luas, mulai dari perdagangan, pertanian, hingga akomodasi makanan dan minuman yang ikut mengalami kontraksi akibat asap dan gangguan produksi,” jelasnya.

Berdasarkan wilayah, Kalimantan Barat mencatat dampak ekonomi nominal terbesar sebesar Rp5,7 triliun. Berikutnya Papua Barat Rp4,3 triliun dan Nusa Tenggara Timur Rp2,8 triliun.

“Ini menandai bahwa karhutla kini bukan hanya persoalan Kalimantan dan Sumatra, tapi sudah merambat ke Indonesia Timur,” kata Huda.

Dampak karhutla juga merembet ke penerimaan negara. CELIOS memperkirakan terdapat sekitar Rp269,86 miliar potensi penerimaan pajak bersih daerah yang hilang akibat karhutla pada 2026.

“Ini menunjukkan dampak fiskal karhutla tidak berhenti di provinsi yang terbakar saja, tapi merambat ke provinsi lain lewat keterkaitan sektor turunan seperti industri olahan kayu, pulp and paper, dan furnitur,” ujarnya.

Baca Juga: Karhutla Membakar Lahan, Negara Menghitung Biaya: Seberapa Efisien OMC?

Baca Juga: Tepung Singkong Bakal Dipakai Padamkan Karhutla? Ini Kata Mentan Amran

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan krisis karhutla pada 2015 dan 2019. Selain jumlah kejadian yang melonjak, kebakaran kini meluas ke sejumlah wilayah non-gambut dan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp123,1 triliun.

Sementara, Data Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat kejadian karhutla sepanjang Januari-Juni 2026 meningkat 366% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data sistem monitoring Hutan Nasional (SIPONGI) KLHK menunjukkan luas areal terbakar sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 202.010,96 hektare secara nasional.

Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas areal terbakar terbesar, yakni 38.310,86 hektare. Posisi berikutnya ditempati Papua Selatan dengan 25.838,53 hektare, disusul sejumlah provinsi lainnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: