136 Siswa Tana Toraja Dirawat Usai Santap MBG, Satgas: Belum Bisa Disebut Keracunan
Kredit Foto: Istimewa
Dinas Kesehatan Tana Toraja mencatat sebanyak 136 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale mengalami gangguan kesehatan setelah menerima menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, jumlah tersebut belum serta-merta dinyatakan sebagai korban keracunan karena Satgas MBG Tana Toraja masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Kepala Dinas Kesehatan Tana Toraja, Yosefina, mengatakan para siswa tersebut kini tersebar di tiga rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Data sementara mencatat 25 siswa dirawat di RS Fatima, 41 orang di RS Sinar Kasih, dan 70 orang di RSUD Lakipadada.
"Iya, data sementara terdapat di RS Fatima 25 orang, RS Sinar Kasih 41 orang, dan RSUD Lakipadada 70 orang," kata Yosefina, Kamis (3/9).
Meski jumlah siswa yang mendapatkan perawatan mencapai 136 orang menurut data Dinkes, pemerintah daerah belum memastikan bahwa gangguan kesehatan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Yosefina menyebut pemeriksaan masih diperlukan untuk mengetahui penyebab maupun memastikan gejala yang dialami para siswa.
"Kita masih menunggu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Penyebab maupun gejala keracunan pada sekolah ini belum bisa dipastikan," ujar Yosefina.
Penegasan serupa disampaikan Sekretaris Daerah Tana Toraja sekaligus Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo. Ia menyebut angka siswa yang terdampak berdasarkan data yang diterimanya masih berada di angka 80 orang dan meminta kasus tersebut tidak langsung dikategorikan sebagai keracunan.
"Yang berdampak sekarang ini ada 80 (siswa), dirawat di tiga rumah sakit. Tapi ini belum kita katakan bahwa ini adalah keracunan," kata Rudy.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan data penanganan korban masih terus diperbarui oleh pihak terkait. Di sisi lain, status penyebab gangguan kesehatan juga masih harus menunggu proses pemeriksaan sehingga belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan menu MBG.
Kasus tersebut bermula setelah siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batupapan 1 pada Rabu (2/9). Makanan diterima pihak sekolah sekitar pukul 11.00 WITA dan kemudian dibagikan kepada siswa sekitar pukul 12.00 WITA.
Kepala SMP Negeri 1 Makale, Yohanis Pakading, mengatakan sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka sejak subuh hingga pagi hari pada Kamis (3/9). Pihak sekolah kemudian mengambil tindakan setelah jumlah siswa yang mengeluh meningkat dan sebagian harus mendapatkan penanganan medis.
"Jadi mereka semuanya yang terpapar ini, katanya memang tadi subuh itu sudah dirasakan. Sudah terasa. Nanti kami tahu saat kami jemput sudah ada yang mengeluh. Nah, karena sudah terjadi massal, sudah antre di WC, maka kami ambil tindakan secepatnya," kata Yohanis.
Menurut Yohanis, proses pembagian makanan MBG di sekolah dilakukan dengan pengawasan person in charge (PIC). Sebelum makanan diberikan kepada siswa, PIC melakukan pemeriksaan awal terhadap makanan, termasuk mengecek aroma dari menu yang diterima.
"PIC yang coba lihat, kemudian kami salurkan ke anak-anak. Menu yang diterima siswa terdiri atas nasi, ayam, perkedel, dan sayuran, termasuk wortel. Pengecekannya kan ada dari PIC kami. Yang aromanya dicium saja. Tapi kan untuk makan, kita tidak coba dulu," jelasnya.
Menu MBG yang dibagikan kepada para siswa disebut terdiri dari ayam masak kuning, tempe goreng tepung, tumis sayur berisi labu siam, wortel dan jagung, serta buah melon. Kendati menu tersebut dikonsumsi sebelum keluhan kesehatan muncul, belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan makanan tersebut menjadi penyebabnya.
Baca Juga: BGN Kucurkan Rp373 Miliar untuk Benahi Dapur dan Rantai Pasok MBG
Sejumlah siswa yang mengalami keluhan kemudian mendapatkan penanganan awal dan sebagian dibawa ke rumah sakit. Yohanis mengatakan ada siswa yang bahkan sempat pingsan, sementara siswa yang tidak mengalami keluhan dipulangkan untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan.
"Kami komunikasi dan langsung ditangani. Kemudian ada yang langsung dibawa ke rumah sakit karena sudah pingsan. Yang tidak terpapar itu kami pulangkan supaya aman," ungkapnya.
Pemerintah daerah kini masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit. Pemeriksaan lebih lanjut juga diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan tersebut benar-benar berkaitan dengan konsumsi menu MBG atau terdapat faktor lain yang menyebabkan gangguan kesehatan secara bersamaan.
Karena itu, kasus di dua sekolah tersebut untuk sementara masih berstatus dugaan. Data jumlah siswa yang dirawat dapat berubah seiring proses pendataan, sementara kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan baru dapat ditentukan setelah pemeriksaan selesai.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: