Erupsi Anak Krakatau Siaga III, Profesor BRIN Ingatkan Bahaya Tsunami Tanpa Gempa
Kredit Foto: Kemenko PMK
Publik menaruh perhatian besar terhadap erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak 4 September 2026 dan kini berstatus Level III (Siaga). Letusan kali ini disebut sebagai salah satu yang paling berdampak dalam beberapa tahun terakhir karena sebaran abu vulkaniknya sangat luas.
Profesor riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menekankan pentingnya memastikan sensor tsunami di Selat Sunda berfungsi optimal.
"Yang paling jadi konsern saya saat ini adalah, apakah sensor tsunami di Selat Sunda masih ada dan aman dalam arti bisa mengeluarkan data secara real time?" tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Senin (7/9).
Erma mengingatkan kembali peristiwa tsunami 2018 yang terjadi tanpa gempa, melainkan akibat longsoran tubuh gunung di bawah laut. Menurutnya, kejadian semacam itu hanya bisa dideteksi melalui sensor tsunami, bukan seismograf.
"Semoga tak ada lagi erupsi dan tak ada tsunami. Amin," tandasnya.
Sementara itu, Badan Geologi ESDM menegaskan tidak ada indikasi ancaman tsunami. Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada dalam fase konstruksi, yakni membangun tubuh baru, berbeda dengan kondisi 2018 ketika terjadi keruntuhan besar.
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Makin Diwaspadai, Tito Beri Sinyal ASN Boleh WFH
Erupsi kali ini didominasi tipe Strombolian, ditandai dengan semburan lava pijar menyerupai air mancur, disertai suara gemuruh dan dentuman konstan.
Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekat dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya