Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AS Susah Payah Hancurkan Iran, Rusia dan China Makin Solid

AS Susah Payah Hancurkan Iran, Rusia dan China Makin Solid Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Kremlin/Aleksey Druzhinin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak luas terhadap pasar energi dan perekonomian global. Di tengah kondisi tersebut, hubungan energi Rusia dan China semakin menunjukkan arti strategis bagi kedua negara.

China dinilai memiliki posisi yang relatif lebih terlindungi dalam menghadapi gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz karena memiliki cadangan energi domestik sekaligus hubungan pasokan dengan Rusia.

Pandangan tersebut disampaikan Igor Sechin, Kepala Eksekutif Rosneft. Menurut Sechin, kombinasi persediaan energi China dan kerja sama dengan Moskow dapat membantu Beijing mengurangi dampak gangguan pasokan minyak dari jalur strategis di Timur Tengah tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah menuju pasar dunia. Jika kapal tanker kesulitan melintas, pasokan energi dapat berkurang dan harga minyak berpotensi mengalami kenaikan.

Kenaikan harga minyak kemudian dapat meningkatkan biaya bahan bakar, transportasi, logistik, hingga biaya produksi berbagai barang.

Krisis energi tersebut memperlihatkan semakin strategisnya hubungan Rusia dan China.

Kerja sama kedua negara tidak hanya berkaitan dengan perdagangan minyak dan gas, tetapi juga menyangkut kepentingan keamanan energi jangka panjang.

Bagi China, diversifikasi pemasok merupakan cara untuk mengurangi risiko ketika terjadi gangguan geopolitik di salah satu kawasan pemasok energi utama.

Sementara bagi Rusia, meningkatnya permintaan dari China membantu mempertahankan pasar ekspor energi setelah hubungan perdagangan dengan sejumlah negara Barat mengalami tekanan.

Hubungan energi kedua negara juga semakin kuat setelah Rusia mengalihkan sebagian besar perdagangan energinya dari pasar Eropa menuju Asia menyusul sanksi negara-negara Barat setelah invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

China kemudian menjadi salah satu tujuan utama minyak dan gas Rusia.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan China diperkirakan menyumbang lebih dari 60 persen ekspor gas Rusia pada akhir dekade ini.

Bagi Moskow, pasar China memberikan kepastian permintaan untuk produk energi. Sementara bagi Beijing, kerja sama tersebut menyediakan sumber pasokan tambahan yang tidak sepenuhnya bergantung pada jalur laut di Timur Tengah.

Meski memiliki cadangan minyak dan akses pasokan dari Rusia, China tidak sepenuhnya kebal terhadap krisis energi global.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama dan harga minyak dunia melonjak tajam, biaya energi global tetap dapat memengaruhi industri, perdagangan, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi China.

Baca Juga: Trump Kirim Utusan ke Rusia, Putin Janji Hentikan Serangan ke Ukraina Tiga Hari

Karena itu, posisi China yang dinilai lebih kuat bukan berarti Beijing sepenuhnya terlepas dari dampak gangguan Hormuz.

Cadangan minyak dapat membantu menahan tekanan pasokan dalam periode tertentu. Pada saat yang sama, kerja sama dengan Rusia dapat membantu menyediakan tambahan energi melalui jalur dan mekanisme perdagangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz.

Kondisi tersebut pada akhirnya menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber dan jalur pasokan energi ketika perdagangan energi global menghadapi tekanan geopolitik.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: