Purbaya Akui Sengaja 'Omong Besar' soal Ekonomi 6 Persen, Ternyata Ini Strateginya
Kredit Foto: Istimewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka-bukaan soal gaya optimistisnya dalam berbicara mengenai perekonomian Indonesia. Ia mengakui sengaja “omong besar” soal ekonomi agar kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha kembali terbentuk, dengan harapan pertumbuhan nasional benar-benar bergerak menuju 6 persen.
Pengakuan itu disampaikan Purbaya saat taklimat media di Jakarta, Selasa (8/9/2026), tepat setahun setelah dirinya dilantik sebagai Menteri Keuangan. Menurut Purbaya, optimisme tersebut bukan sekadar cara untuk menunjukkan keyakinan, tetapi bagian dari desain kebijakan untuk membentuk ekspektasi ekonomi yang positif.
“Ya terpaksa ya omong gede. Itu yang dibilang orang sombong, itu Purbaya sombong banget. Itu bukan sombong tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke depan ke arah yang positif,” kata Purbaya. Ia menjelaskan, strategi tersebut berkaitan dengan konsep self-fulfilling prophecy yang pernah dipelajarinya dalam ilmu makroekonomi.
Konsep tersebut pada dasarnya menjelaskan bagaimana keyakinan atau ekspektasi terhadap kondisi ekonomi dapat ikut memengaruhi kondisi ekonomi itu sendiri. Jika masyarakat dan investor percaya ekonomi akan membaik, keputusan untuk belanja, berinvestasi, dan melakukan ekspansi usaha dapat ikut mendorong perekonomian bergerak sesuai ekspektasi tersebut.
Sebaliknya, Purbaya melihat ekspektasi negatif juga bisa menciptakan persoalan baru. Ketika masyarakat meyakini ekonomi akan memburuk atau masuk resesi, mereka bisa menahan konsumsi, sementara pelaku usaha berpotensi menunda investasi dan ekspansi.
Karena itu, Purbaya memilih terus menyampaikan optimisme meski perekonomian Indonesia belum sepenuhnya berlari kencang. Ia menilai pembentukan kepercayaan publik menjadi penting agar mesin pertumbuhan tidak kembali tertahan pada level yang selama ini dianggap sebagai pola pertumbuhan sekitar 5 persen.
Purbaya bahkan menilai Indonesia sudah mulai keluar dari tren pertumbuhan tersebut. Ia menunjuk pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen, kemudian meningkat menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026 sebelum melambat menjadi 5,29 persen pada kuartal II 2026.
Menurut Purbaya, perlambatan pada kuartal II tidak serta-merta menunjukkan ekonomi kembali melemah. Ia menyebut gangguan dari kondisi global ikut menahan laju pertumbuhan, tetapi fondasi perekonomian dinilainya masih cukup kuat untuk kembali bergerak naik.
“Saya pikir kuartal tahun ini bisa mendekati 6 persen pertumbuhannya. Untuk senangnya sih di situ, untuk ekonom seperti saya yang paling menarik adalah ketika teori diuji di lapangan dan hasilnya sesuai dengan kenyataan,” ujar Purbaya. Keyakinan tersebut juga sejalan dengan optimisme pemerintah sebelumnya yang menargetkan pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen pada 2026.
Baca Juga: Setahun Menjabat, Purbaya Klaim Berhasil Balikkan Arah Ekonomi Menuju 6 Persen
Purbaya mengatakan salah satu pekerjaan yang masih harus dilakukan pemerintah adalah mengembalikan rasa percaya diri masyarakat terhadap arah perekonomian. Ia mengakui persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dalam waktu singkat karena ekspektasi publik membutuhkan proses untuk kembali terbentuk.
“Dalam waktu dekat kan susah untuk itu. Itu bukan sombong, tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke arah yang positif,” ujarnya. Bagi Purbaya, pernyataan optimistis yang terus disampaikan merupakan bagian dari upaya agar masyarakat dan investor percaya bahwa ekonomi Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar.
Dampak dari strategi tersebut, menurut Purbaya, mulai terlihat dari sektor swasta yang bergerak lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Sektor swasta dinilai menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan sehingga pergerakannya menjadi indikator penting apakah optimisme pemerintah mulai diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi nyata.
Purbaya juga menilai pemerintah telah menjalankan perannya untuk mendorong mesin pertumbuhan tersebut. Dengan kebijakan yang terus dijaga dan kepercayaan publik yang semakin terbentuk, ia melihat jarak menuju pertumbuhan 6 persen tidak lagi terlalu jauh.
“Kalau ini dijaga terus, pertumbuhan 6 persen nggak terlalu jauh untuk kita lihat dalam waktu tidak terlalu lama,” tutur Purbaya. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi taruhan atas strategi optimisme yang selama setahun terakhir ia bangun sebagai Menteri Keuangan.
Setahun setelah duduk sebagai Bendahara Negara, Purbaya kini tidak hanya menawarkan angka pertumbuhan 6 persen. Ia juga mengungkap alasan di balik cara komunikasinya, yakni membentuk ekspektasi positif agar masyarakat, investor, dan dunia usaha ikut percaya bahwa ekonomi Indonesia memang mampu bergerak lebih tinggi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: