Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Buntut Kelakar Utang Whoosh 80 Tahun 'Kita Sudah Mati', Anas Urbaningrum Sentil Menkeu Purbaya

Buntut Kelakar Utang Whoosh 80 Tahun 'Kita Sudah Mati', Anas Urbaningrum Sentil Menkeu Purbaya Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Umum PKN Anas Urbaningrum menyentil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait pernyataannya mengenai perpanjangan tenor utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) hingga 80 tahun.

Anas menilai persoalan utang negara tidak semestinya disampaikan dengan nada bercanda. Menurutnya, utang yang menjadi beban negara pada akhirnya akan dipikul oleh rakyat.

“Ini urusan penting. Soal utang yang musti ditanggung negara, dipikul oleh rakyat. Sama sekali tidak bisa dianggap enteng. Kurang patut direspons dengan gaya guyonan,” tegas Anas dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu kemudian meminta Purbaya lebih disiplin dalam menyampaikan pernyataan publik, terutama karena posisinya sebagai Menteri Keuangan yang memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan fiskal negara.

“Sebab perihal ini sama sekali bukanlah bahan candaan. Maaf, Pak Menteri. Saran: disiplin dalam pernyataan adalah pilihan yang sesuai dengan kedudukan dan tugas Menkeu. Apalagi beban utang masih sampai 80 tahun lagi,” ujar Anas.

Pernyataan Anas tersebut merespons kelakar Purbaya ketika menjelaskan restrukturisasi utang proyek Whoosh.

Utang Whoosh Direstrukturisasi hingga 80 Tahun

Purbaya sebelumnya menjelaskan pemerintah melakukan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dengan memperpanjang masa pembayaran atau tenor hingga 80 tahun.

Menurut Purbaya, perpanjangan tenor tersebut membuat beban pembayaran utang menjadi sekitar Rp1 triliun atau sedikit di bawah Rp1 triliun per tahun.

“Berarti kan total utang besar, tapi di-stretch 80 tahun sudah direstrukturisasi. Cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah Rp1 triliun dari tahun ke tahun,” kata Purbaya saat memberikan penjelasan di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Selasa (8/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga melontarkan candaan mengenai panjangnya tenor utang tersebut.

“(Tenor cicilan) 80 tahun saya dengar kemarin, makanya hebat juga tuh. Iya, kita sudah mati, santai saja,” kelakarnya.

Ucapan tersebut kemudian menuai sorotan karena berkaitan dengan persoalan utang proyek strategis yang pembayarannya akan berlangsung dalam jangka waktu sangat panjang.

Bagi Anas, persoalan tersebut semestinya dibahas secara serius mengingat konsekuensi fiskalnya tidak hanya berkaitan dengan pemerintah saat ini, tetapi juga berpotensi menjadi beban negara dalam jangka panjang.

Karena itu, Anas meminta pejabat negara, khususnya Menteri Keuangan, menjaga komunikasi publik ketika membahas persoalan utang dan keuangan negara.

Menurutnya, gaya komunikasi pejabat harus disesuaikan dengan bobot persoalan serta tanggung jawab jabatan yang diemban.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat