Kredit Foto: Danantara
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) tidak lagi berhenti pada fungsi kepatuhan, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis dan penciptaan nilai perusahaan.
Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara Effendi Hengki mengatakan, GRC yang efektif dapat membantu manajemen mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai dengan risk appetite perusahaan. Di saat yang sama, GRC juga berperan melindungi nilai investasi, menangkap peluang strategis, dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis.
“GRC yang efektif membantu pimpinan mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai risk appetite, melindungi nilai investasi dari risiko yang tidak diinginkan, sekaligus menangkap peluang strategis dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis,” ujar Effendi dalam TOP GRC Awards 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut Effendi, perubahan tersebut semakin penting karena risiko bisnis saat ini bergerak jauh lebih cepat, terutama dengan meningkatnya pemanfaatan teknologi digital. Risiko dapat berkembang dalam hitungan menit sehingga perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan sistem pengawasan yang hanya bersifat periodik.
Karena itu, perusahaan perlu beralih dari pola GRC yang sekadar menghasilkan laporan atau aktif menjelang audit menuju continuous assurance. Pendekatan ini memanfaatkan data secara real-time, otomatisasi, serta sistem yang terintegrasi untuk mendeteksi risiko lebih dini dan mendukung pengambilan keputusan.
“Dengan demikian, fungsi GRC dan audit dapat bergerak dari sekadar memeriksa kejadian masa lalu menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan mendeteksi risiko lebih dini, memperkuat ketahanan, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat dan tepat,” katanya.
GRC Jadi Strategic Enabler
Pergeseran fungsi GRC tersebut menempatkan governance, risk management, dan compliance sebagai bagian yang terintegrasi dengan strategi perusahaan. Artinya, GRC tidak hanya bertugas memastikan kebijakan dijalankan, tetapi juga memberikan insight yang dapat digunakan manajemen dalam menentukan arah bisnis.
Ketua Dewan Juri TOP GRC Awards 2026 Antonius Alijoyo mengatakan, konsep Intelligent GRC tidak sekadar melakukan digitalisasi terhadap dokumen maupun proses kepatuhan. Pemanfaatan data, teknologi, analitik, dan Artificial Intelligence (AI) harus mampu meningkatkan kualitas informasi, mendeteksi risiko, memperkuat kontrol, dan mendukung keputusan strategis.
"Perjalanan menuju Intelligent GRC adalah perjalanan menjadikan GRC semakin terintegrasi dengan bisnis, dari sekadar memenuhi kewajiban, menuju GRC yang memberi insight, mendukung keputusan strategis, memperkuat resiliensi, dan menciptakan sustainable value,” ujar Antonius.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan GRC juga mulai bergeser. Perusahaan tidak cukup hanya memiliki kebijakan, struktur, dan sistem pengendalian yang lengkap, tetapi harus mampu menunjukkan bagaimana GRC dijalankan, terintegrasi dengan bisnis, menciptakan nilai, serta terus ditingkatkan kematangannya.
Baca Juga: Danantara: PNM Bakal Masuk Kopdes untuk Berantas Rentenir di Desa
Baca Juga: Danantara Soal Bangunan Kopdes di Gunung: Buat Tekan Kebocoran Subsidi dan Inflasi
Baca Juga: BGN Sewa Gedung Merah Putih di Atas Harga Pasar, Danantara Klaim Telkom Tak akan Rugi
Sustainability Masuk ke Strategi
Perubahan tersebut juga berjalan seiring dengan meningkatnya tuntutan terhadap keberlanjutan. Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG) Mardiasmo mengatakan sustainability perlu dirancang sejak awal dan terintegrasi dengan purpose, strategi, risk appetite, hingga alokasi sumber daya perusahaan.
Menurutnya, prinsip governansi tidak hanya tercermin dari kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga dari perilaku etis, kualitas pengambilan keputusan, perlindungan pemangku kepentingan, ketahanan perusahaan, dan kemampuan menciptakan nilai dalam jangka panjang.
Sementara itu, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan RI Nur Rachmad menilai GRC harus menjadi bagian dari keputusan strategis dengan mengintegrasikan strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance.
Pemanfaatan teknologi juga perlu diarahkan agar risk dashboard tidak berhenti sebagai alat pelaporan, tetapi berkembang menjadi sistem peringatan dini dan decision intelligence. Namun, penerapan AI dalam GRC tetap perlu ditopang digital trust, human oversight, auditability, keamanan, dan akuntabilitas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: