Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kasus Keracunan MBG di Karo Makin Serius, Keluarga Korban Laporkan BGN hingga SPPG

Kasus Keracunan MBG di Karo Makin Serius, Keluarga Korban Laporkan BGN hingga SPPG Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keluarga korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memilih menempuh jalur hukum. Langkah tersebut diambil karena hingga kini belum ada kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas insiden yang dialami para siswa.

Kuasa hukum korban, Aslia Rubianto, mengatakan laporan telah disampaikan ke Polres Tanah Karo pada 31 Agustus 2026. Menurut Aslia, terdapat tiga pihak yang dilaporkan, yakni SPPG terkait, Badan Gizi Nasional (BGN), dan guru.

Selain laporan pidana, tim kuasa hukum juga tengah menyiapkan gugatan perdata terkait kasus tersebut. "Siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi keracunan ini, itu sampai sekarang belum ada," kata Aslia, Kamis (10/9/2026).

"Itu makanya kita sebagai kuasa hukum daripada korban MBG melakukan upaya hukum pelaporan supaya jangan ada lagi korban lain," imbuhnya. Langkah hukum tersebut sekaligus diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai tanggung jawab dalam insiden keracunan MBG di Karo.

Aslia juga menyoroti keterbukaan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa. Menurut dia, keluarga korban baru memperoleh hasil laboratorium setelah mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPRD Karo pada 7 September 2026.

Baca Juga: 269 Siswa di Pati Alami Mual dan Diare Usai Santap MBG, Ini Kondisi Terbarunya

Padahal, hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara disebut telah bertanggal 16 Agustus 2026, atau tiga hari setelah insiden keracunan. "Selama ini ketika kita pertanyakan, seolah-olah tidak diberikan bagaimana sebenarnya bakteri yang kena. Oleh sebab itu, banyak tafsiran-tafsiran masyarakat, ada yang bilang ini kena boraks, ada yang bilang racun-racun yang lain," kata Aslia.

Menurut Aslia, keterbukaan hasil pemeriksaan sejak awal penting agar keluarga korban tidak terus berada dalam ketidakpastian. "Andaikan sejak awal Dinas Kesehatan Karo memberikan penerangan terhadap apa yang sebenarnya yang ada di dalam tubuh anak-anak kita sehingga terjadi kejang, dan ada beberapa yang kehilangan ingatan, artinya tidak terjadi kegalauan di orang tua," tutur Aslia.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy