Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

KLBF Rem Investasi, Capex Rp1 Triliun 2026 Kembali Dikaji

KLBF Rem Investasi, Capex Rp1 Triliun 2026 Kembali Dikaji Kredit Foto: Kalbe Farma
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) kembali mengevaluasi rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026 yang sebelumnya disiapkan sekitar Rp1 triliun. Perseroan memilih lebih berhati-hati dalam mengalokasikan modal di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan terhadap rantai pasok global.

Direktur Finance & Accounting KLBF Kartika Setyabudi mengatakan kondisi eksternal membuat perseroan perlu meninjau kembali sejumlah proyek yang telah direncanakan tahun ini. Salah satu pertimbangannya adalah gangguan rantai pasok global yang berdampak pada kebutuhan bahan baku dan kemasan.

"Pengaruh kondisi geopolitik turut berpengaruh terhadap global supply chain atas beberapa bahan baku yang dibutuhkan perseroan. Sehingga ini menjadi fokus utama kami bagaimana tahun ini secara modal kerja itu memang merupakan prioritas utama. Untuk capex tentunya kita akan review kembali,” ujar Kartika dalam Public Expose Live 2026, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Sebelumnya, KLBF mengalokasikan capex sekitar Rp1 triliun untuk 2026. Belanja modal tersebut disiapkan untuk mendukung sejumlah kebutuhan investasi, termasuk penambahan kapasitas pada bisnis farmasi dan nutrisi.

Namun, perkembangan kondisi bisnis membuat perseroan perlu menyesuaikan kembali prioritas investasi. Kebutuhan modal kerja kini menjadi perhatian utama karena kenaikan biaya dan ketidakpastian pasokan berpotensi meningkatkan kebutuhan dana untuk menjaga kelancaran operasional.

Langkah tersebut diambil ketika KLBF juga menghadapi tekanan terhadap profitabilitas meski penjualan masih tumbuh. Pada semester I 2026, penjualan neto perseroan mencapai Rp19,47 triliun, naik 14,06% dari Rp17,07 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, beban pokok penjualan meningkat lebih tinggi, yakni 20,75% menjadi Rp12,16 triliun dari Rp10,07 triliun. Alhasil, pertumbuhan penjualan belum sepenuhnya mengalir ke laba perseroan.

Laba sebelum pajak KLBF pada semester I 2026 tercatat Rp2,53 triliun, turun 3,07% secara tahunan dari Rp2,61 triliun. Laba periode berjalan juga turun 2,48% menjadi Rp1,97 triliun dari Rp2,02 triliun.

Baca Juga: Free Float Jadi Tantangan, Kalbe Farma Kaji Opsi Delisting EPMT

Baca Juga: Bisnis Makin Rentan, Kalbe dan Nawakara Siapkan Strategi Keamanan Terintegrasi

Baca Juga: Antam Siap Cetak 30 Juta Ton Emas per Tahun di Gresik Mulai 2028

Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 3,05% menjadi Rp1,91 triliun dari Rp1,97 triliun pada semester I-2025.

Manajemen sebelumnya menjelaskan bahwa tekanan margin masih menjadi salah satu tantangan KLBF. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat biaya produksi perseroan sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan harga bahan baku global.

Untuk meredam tekanan tersebut, KLBF mengandalkan sejumlah strategi, mulai dari efisiensi dan peningkatan produktivitas, penyesuaian harga secara selektif, hingga peningkatan penggunaan bahan baku lokal melalui pengembangan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). 

"Kami juga terus mengevaluasi portofolio produk agar pertumbuhan lebih banyak berasal dari produk dengan margin yang lebih baik," tutup dia.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan