Peneliti Australia Temukan Gangguan Bipolar dapat Diredakan dengan Obat Diabetes dan Obesitas
Kredit Foto: Unsplash/Kristijan Arsov
Terapi GLP-1 semaglutide disebut menekan gejala-gejala ektrem pada pengidap gangguan bipolar. Hal ini diungkap dalam studi dari Griffith University, Australia yang menemukan adanya kaitan antara penggunaan semaglutide dan tingkat rawat inap psikiatri.
Peneliti menganalisis data sekitar 15.000 orang selama 15 tahun. Hasilnya, orang dengan gangguan bipolar yang menggunakan semaglutide tercatat memiliki risiko 21 persen lebih rendah untuk dirawat di rumah sakit karena alasan psikiatris.
Mengutip NYPost, semaglutide merupakan molekul dalam terapi GLP-1 yang diproduksi Novo Nordisk. Obat ini dipasarkan dengan nama Ozempic untuk diabetes dan Wegovy untuk obesitas.
Profesor Mark Taylor yang memimpin penelitian tersebut mengatakan, temuan tersebut menambah bukti mengenai kemungkinan manfaat agonis reseptor GLP-1 di luar pengobatan diabetes dan obesitas.
“Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan obesitas, serta dapat mewakili jalan baru yang menjanjikan untuk penelitian bipolar,” kata Taylor, dikutip dari NYPost.
Gangguan bipolar dapat ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem. Kondisi tersebut dapat mencakup depresi yang memicu pikiran atau upaya bunuh diri hingga episode mania berat yang dapat menyebabkan psikosis, impulsivitas berbahaya, atau kesulitan merawat diri.
Dalam penelitian tersebut, semaglutide disebut berpotensi memengaruhi sejumlah proses biologis yang berkaitan dengan gangguan bipolar, termasuk peradangan dan stres seluler. Mekanisme tersebut masih menjadi bagian dari penelitian lebih lanjut.
Peneliti juga mencatat bahwa kaitan dengan penurunan risiko rawat inap psikiatri terlihat pada semaglutide. Molekul GLP-1 lainnya tidak menunjukkan manfaat yang sama dalam analisis tersebut.
Sejumlah penelitian sebelumnya juga dikaitkan dengan potensi manfaat GLP-1 terhadap kondisi kesehatan mental. Pada 2025, studi terhadap hampir 30.000 pasien menemukan adanya indikasi efek antidepresan dari penggunaan obat GLP-1.
Sementara itu, penelitian lain pada 2024 menemukan remaja dengan obesitas yang mendapat terapi semaglutide mengalami penurunan pemikiran atau upaya bunuh diri sebesar 33 persen.
Baca Juga: Saham Kesehatan Melonjak Usai Erupsi Anak Krakatau
Penggunaan GLP-1 juga dilaporkan berkaitan dengan perubahan gejala ADHD. Direktur Adult ADHD Program di NYU Langone Health, Dr. Lenard Adler, mengatakan sejumlah pasien melaporkan peningkatan fokus dan rentang perhatian serta berkurangnya impulsivitas dan hiperaktivitas setelah menggunakan obat GLP-1.
Meskipun demikian, para ilmuwan masih belum mengetahui apakah obat-obatan tersebut secara langsung dapat memperbaiki gejala ADHD.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: