Kredit Foto: Vale Indonesia
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mewaspadai tingginya harga sulfur yang berpotensi menambah biaya proyek pengolahan nikel berbasis high-pressure acid leach atau HPAL. Kebutuhan sulfur pada fasilitas HPAL dinilai jauh lebih besar dibandingkan operasi pengolahan nikel matte yang saat ini dijalankan perusahaan di Sorowako.
Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia, Mateus Sigit H, mengatakan harga sulfur masih menjadi salah satu tantangan bagi proyek HPAL, terutama karena komoditas tersebut merupakan bahan utama untuk menghasilkan asam sulfat dalam proses pengolahan bijih nikel limonit.
“Kalau kita bicara kebutuhan sulfur, antara proses RKEF PT Vale sekarang dengan HPAL, itu tidak sebesar dibandingkan HPAL. HPAL itu kebutuhan sulfurnya jauh lebih besar. Itu yang menyebabkan cost sulfur akan naik signifikan kalau ini tidak segera pulih,” kata Sigit dalam MediaMIND di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Sulfur diolah menjadi asam sulfat yang digunakan untuk melindi bijih nikel limonit dalam fasilitas HPAL. Proses tersebut menghasilkan mixed hydroxide precipitate atau MHP, produk antara yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan untuk prekursor dan material katoda baterai.
Kebutuhan sulfur dalam proses HPAL tergolong besar. Berdasarkan data yang dihimpun Warta Ekonomi, produksi satu ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur. Sementara itu, lebih dari 70 persen kebutuhan sulfur untuk pengolahan nikel di Indonesia masih dipenuhi melalui impor.
Ketergantungan pada impor membuat industri HPAL rentan terhadap perubahan pasokan dan harga di pasar global. Hingga 2025, sekitar 75–80 persen impor sulfur Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah, dengan total impor sulfur nasional sekitar 5,3 juta ton.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia atau FINI Arif Perdana Kusumah sebelumnya menyebut harga sulfur melonjak dari sekitar US$250 per ton pada April 2025 menjadi sekitar US$1.200 per ton pada Juni 2026. FINI mengaitkan kenaikan harga tersebut dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan sulfur global.
Sigit mengatakan harga sulfur telah mengalami penurunan dari level tertinggi, tetapi masih berada pada level yang tinggi. Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menekan keekonomian HPAL yang membutuhkan sulfur dalam jumlah besar.
“Sudah ada penurunan, tapi masih cukup tinggi,” ujar Sigit.
Vale saat ini mengembangkan proyek HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara; Bahodopi, Sulawesi Tengah; dan Sorowako, Sulawesi Selatan. Fasilitas tersebut akan mengolah bijih nikel limonit menjadi MHP untuk rantai pasok material baterai.
Untuk operasi eksisting di Sorowako, Sigit mengatakan Vale masih memiliki persediaan sulfur dari pengadaan sebelumnya. Namun, stok tersebut tidak dapat menjadi solusi jangka panjang, terutama ketika fasilitas HPAL mulai beroperasi.
“Kalau PT Vale yang di Sorowako, memang benar kami ada stok. Tapi stok ini tidak bisa terus-terusan. Paling mungkin sampai awal tahun depan,” lanjutnya.
Baca Juga: Vale Optimistis Capai Target Produksi Nikel Minimal 67.645 Ton di 2026
Baca Juga: Vale Incar Nikel Tanamalia, PUSHEP Mempertanyakan Dasar Hukumnya
Vale juga menyiapkan sejumlah opsi untuk mengurangi risiko pasokan sulfur. Salah satunya adalah mengkaji pemanfaatan pirit sebagai bahan alternatif untuk menghasilkan asam sulfat. Namun, Sigit mengatakan opsi tersebut masih perlu dibuktikan secara teknis, terutama untuk memastikan kualitas asam sulfat yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan proses HPAL.
“Pirit secara konsep harusnya bisa karena hasilnya nanti akan menjadi sulfuric acid. Tapi apakah pirit ini akan menghasilkan sulfuric acid yang sama, itu yang nanti harus kami buktikan,” tandasnya.
Proyek HPAL Pomalaa saat ini memasuki tahap akhir konstruksi dan pengujian sebelum operasi. Vale menargetkan fasilitas tersebut mulai memasuki tahap operasi setelah proses pengujian selesai.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: