Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tak Patuhi Trump Soal Sanksi Ekonomi Iran, China Bisa Buat AS Murka

Tak Patuhi Trump Soal Sanksi Ekonomi Iran, China Bisa Buat AS Murka Kredit Foto: Instagram/Xi Jinping
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah China diprediksi tidak akan mematuhi ancaman sanksi sekunder Amerika Serikat (AS) terhadap negara-negara yang menjadi mitra dagang Iran. Sikap tersebut berpotensi kembali memanaskan hubungan Washington dan Beijing, bahkan membuka risiko perang dagang berskala besar.

Analis Keamanan Nasional Alex Plitsas menyebut pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah menyiapkan sanksi tambahan yang diarahkan untuk menekan perekonomian Iran. Langkah tersebut ditujukan untuk memutus jalur ekonomi Iran sekaligus mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.

Namun, rencana tersebut menghadapi potensi penolakan dari China. Tingginya ketergantungan Beijing terhadap pasokan minyak dan gas dari Iran dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat China berpotensi tidak mengikuti sanksi sepihak AS.

Jika China kembali menolak langkah tersebut, hubungan kedua negara berisiko semakin menjauh menuju konflik perdagangan. Perselisihan tersebut bahkan dapat berkembang menjadi aksi saling balas yang berdampak pada pasokan mineral kritis dari China.

Tekanan terhadap Iran sendiri disebut telah memberikan dampak terhadap perekonomian negara tersebut. Blokade dan sanksi ekonomi dari AS telah memukul perekonomian Iran, salah satunya ditandai dengan lonjakan inflasi.

Meski tekanan ekonomi diarahkan untuk mendorong perubahan kebijakan Teheran, pemerintah Iran sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda menyerah.

Sebaliknya, Iran merespons tekanan tersebut dengan meningkatkan eskalasi. Salah satunya melalui serangan terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.

Plitsas juga memperingatkan kemungkinan Iran melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur minyak dan gas di kawasan Timur Tengah apabila tekanan dan sanksi terus ditingkatkan.

Di tengah meningkatnya tekanan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf telah menyuarakan kekhawatiran mengenai ancaman krisis pangan yang dapat dihadapi masyarakat.

Baca Juga: AS Susah Payah Hancurkan Iran, Rusia dan China Makin Solid

Namun, keputusan strategis terkait respons Iran terhadap perkembangan geopolitik dan keamanan tidak sepenuhnya berada di tangan otoritas sipil.

Keputusan akhir mengenai respons geopolitik dan keamanan Iran tetap dikendalikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersama para pemimpin keamanan tertinggi Iran.

Situasi tersebut membuat rencana peningkatan sanksi AS terhadap Iran tidak hanya berpotensi memperbesar tekanan terhadap Teheran, tetapi juga membuka ruang ketegangan baru antara Washington dan Beijing jika China memilih menolak sanksi terhadap mitra dagang Iran.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: