Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Belanja Kementerian dan Lembaga Tembus Rp912 Triliun di Agustus, Naik 33% dari Tahun Lalu

Belanja Kementerian dan Lembaga Tembus Rp912 Triliun di Agustus, Naik 33% dari Tahun Lalu Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Belanja pemerintah melalui kementerian/lembaga (K/L) melaju cukup kencang hingga akhir Agustus 2026. Tercatat, realisasi belanja K/L telah mencapai Rp912,4 triliun, melonjak 33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp686 triliun.

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menjelaskan kenaikan tersebut menunjukkan adanya aktivitas dan proyek pemerintah berjalan lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Belanja negara tumbuh sangat sehat 17,1 persen, dan di dalam belanja negara ini yang tumbuh cukup kuat adalah belanja kementerian dan lembaga. Rp912,4 triliun itu pertumbuhan 33 persen di atas belanja K/L di tahun yang lalu. Tahun lalu kalau Anda lihat, akhir Agustus itu belanja K/L-nya adalah Rp686,0 triliun,” jelas Suahasil dalam paparan APBN KiTa, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, percepatan belanja K/L menjadi sinyal bahwa proyek dan aktivitas pemerintah mulai berjalan di lapangan. Ia mengatakan, pemerintah memang mendorong agar anggaran yang telah dialokasikan tidak berhenti sebagai pagu, tetapi benar-benar digunakan untuk menjalankan program.

“Ini berarti proyek-proyek pemerintah, aktivitas pemerintah berjalan di lapangan tumbuh 33 persen. Ini adalah suatu indikasi yang baik, karena kita memang menginginkan kalau APBN itu sudah dibuat, alokasi kepada K/L itu sudah diberikan, maka alokasi yang diberikan itu digunakan,” tambahnya.

Belanja Harus Tepat Sasaran

Meski demikian, Suahasil mengingatkan lonjakan belanja tersebut tidak boleh sekadar mengejar besarnya penyerapan anggaran. Penggunaan APBN tetap harus memperhatikan efisiensi dan ketepatan sasaran.

“Jangan alokasinya sudah diberikan terus kemudian kegiatannya nggak dijalankan. Tetapi kalau dijalankan kegiatannya harus dengan prinsip efisiensi, harus prinsip tepat sasaran dan prinsip yang kemudian bisa memberikan manfaat semaksimal mungkin kepada masyarakat,” tegasnya.

Secara keseluruhan, belanja negara hingga akhir Agustus 2026 tumbuh 17,1%. Sementara itu, keseimbangan primer tercatat masih positif Rp154 triliun.

Baca Juga: APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Agustus 2026

Baca Juga: Harga Minyak Melampaui Asumsi APBN, Suahasil Ingatkan Risiko Subsidi Energi

Dari sisi defisit, realisasi mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun pembiayaan anggaran telah mencapai Rp473,5 triliun atau 68,7% dari target pembiayaan dalam APBN.

Suahasil mengatakan, posisi pembiayaan tersebut masih berada di jalur yang sesuai dengan target. Pemerintah juga memproyeksikan defisit APBN hingga akhir tahun dapat berada di kisaran 2,85% terhadap PDB.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra