Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pembiayaan utang neto pemerintah mencapai Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026. Realisasi tersebut terutama berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan capaian pembiayaan utang tersebut masih berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dalam APBN 2026.
"Pembiayaan utang neto saat ini, realisasi sampai 31 Agustus ada Rp 506 triliun," kata Suahasil dalam konferensi pers APBN, Jumat (18/9/2026).
Dari sisi penerbitan SBN, realisasi secara neto telah mencapai Rp527,4 triliun. Angka tersebut setara sekitar 66 persen dari target penerbitan SBN dalam APBN 2026.
"Jadi dengan sudah Agustus, on track. Sesuai dengan rencana APBN, dia on track. Kita perhatikan terus ke depannya dan kita laporkan terus," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Suahasil memastikan kondisi pasar SBN Indonesia masih solid. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian pemerintah adalah spread atau selisih imbal hasil antara SBN Indonesia dan surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).
Baca Juga: Misbakhun Minta Batas Defisit 3% dan Rasio Utang 60% Dikaji Ulang
Untuk SBN berdenominasi dolar AS dengan tenor 10 tahun, spread terhadap US Treasury 10 tahun berada di sekitar 97 basis poin. Sementara SBN rupiah dengan tenor yang sama memiliki spread sekitar 120 basis poin.
Suahasil mengatakan posisi spread Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain masih mendukung minat investor asing terhadap SBN.
"Indonesia relatif oke, kita ada spread dengan 217 basis point. Itu tetap membuat bisa mengundang pemodal asing untuk membeli SBN kita," tegasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: