Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mayor Teddy Sempat Dianggap Tak Sopan Sela Prabowo, Kini Justru Dinilai Menerobos Feodalisme

Mayor Teddy Sempat Dianggap Tak Sopan Sela Prabowo, Kini Justru Dinilai Menerobos Feodalisme Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat politik Rocky Gerung membela tindakan Mayor Teddy Indra Wijaya yang sempat menginterupsi dan memberikan informasi langsung kepada Presiden di tengah agenda penyampaian keterangan resmi.

Tindakan tersebut sebelumnya dinilai tidak lazim dan dianggap kurang sesuai dengan tata krama oleh sebagian kalangan. Namun, Rocky justru melihat langkah Teddy sebagai bagian dari profesionalisme staf kepresidenan untuk memastikan informasi yang disampaikan Presiden tetap akurat.

Pernyataan itu disampaikan Rocky dalam tayangan diskusi Total Politik pada 17 September 2026. Ia menanggapi insiden ketika Teddy menghalangi mikrofon dan membisikkan koreksi atau informasi terbaru kepada Presiden saat membahas isu kebencanaan di hadapan publik.

Menurut Rocky, staf kepresidenan memang harus memiliki keberanian untuk memberikan informasi atau mengoreksi Presiden secara cepat ketika diperlukan. Kecepatan tersebut dinilai lebih penting daripada mempertahankan tata krama protokoler yang terlalu kaku.

"Justru itu yang biasa. Staf khusus itu harus setiap detik mampu untuk mengingatkan presiden. Isu, konteks, bahkan istilah mesti diselesaikan segera, itu tidak bisa ditunda. Jadi Teddy melakukan hal yang benar," ujar Rocky.

Rocky mengibaratkan sikap tersebut dengan prinsip army readiness atau kesiagaan militer. Dalam pandangannya, informasi yang akurat perlu disampaikan seketika agar Presiden tidak menyampaikan informasi yang keliru kepada publik.

Ia juga membandingkan pola komunikasi tersebut dengan lingkungan kepresidenan di Amerika Serikat. Menurut Rocky, staf di lingkungan West Wing memiliki inisiatif untuk langsung memberikan informasi kepada presiden ketika diperlukan.

"Di Amerika itu yang disebut West Wing, dia harus punya inisiatif untuk langsung bicara pada presiden. Teddy ini sebetulnya kepala West Wing," katanya.

Rocky Sebut Teddy Mendobrak Feodalisme

Rocky juga menilai kritik terhadap tindakan Teddy justru memperlihatkan masih adanya kultur feodal dalam lingkungan kekuasaan. Menurut dia, anggapan bahwa Presiden tidak boleh secara langsung dikoreksi oleh staf dapat menghambat arus informasi.

"Kenapa dianggap tidak wajar? Karena orang akhirnya membenarkan feodalisme. Teddy justru menerobos feodalisme itu. Kecepatan memberi informasi di situ menunjukkan keakraban sekaligus profesionalisme," tegas Rocky.

Baca Juga: Ini Alasan Purbaya 'Tak Percaya' Data Desil

Ia kemudian membandingkan sikap Teddy dengan para menteri yang menurutnya tidak selalu berani berdebat atau memberikan koreksi kepada Presiden.

Rocky menilai keberanian memberikan informasi secara langsung seharusnya tidak hanya dilakukan oleh staf kepresidenan, tetapi juga menjadi bagian dari sikap para pejabat dalam menjalankan tugasnya.

"Teddy tidak feodal pada presiden. Menteri-menteri feodal pada presiden. Kalau menteri punya otonomi, dia akan bilang, 'Kalau Teddy bisa, saya juga bisa dong.' Tapi dari awal itu tidak terjadi, sehingga kedunguan ada pada kabinet memang," pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat