Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bos BI Buka-bukaan Penyebab Rupiah Melemah

Bos BI Buka-bukaan Penyebab Rupiah Melemah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah berada dalam tekanan. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), arus modal yang bergerak keluar dari negara berkembang, serta kebijakan moneter global yang masih ketat.

Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan menjelang akhir September 2026. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp17.917 per dolar AS pada 25 September 2026, melemah dibandingkan posisi Rp17.687 per dolar AS pada 15 September.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang masih menghadapi ketidakpastian. Salah satunya adalah kebijakan moneter negara maju yang masih berada dalam kondisi ketat dan menciptakan tekanan terhadap arus modal negara berkembang.

“Global challenges kita ini memang masih cukup berat. Kita menghadapi geopolitical conflict, kemudian juga tight global monetary policy. Jadi memang terjadi apa yang kita sebut sebagai flight to quality, di mana tekanan ini juga masuk ke payment system kita dan juga exchange rate stabilization. Kemudian dengan kondisi higher for longer, ini memang memberikan tekanan terhadap capital inflow ke emerging market,” ujar Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

Tekanan tersebut semakin terasa ketika dolar AS menguat terhadap mata uang global. Destry mencatat indeks dolar AS atau DXY berada di level 101,11, sementara indeks dolar terhadap mata uang Asia berada di level 96,26.

“Global inflation kita juga naik menjadi 4,6 persen. Kemudian The Fed baru saja menaikkan 25 basis poin dan kita expect mungkin masih akan ada satu kali kenaikan lagi di kuartal IV. Ini kemudian membuat dolar menguat, DXY kita 101,11, kemudian Asia 96,26. Jadi terjadi capital flight dari emerging market kembali ke developed market, khususnya US, karena memang terjadi risk-off,” jelasnya.

Menurut Destry, kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset negara maju, khususnya Amerika Serikat. Perpindahan arus modal ini kemudian menjadi salah satu tantangan bagi stabilitas nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Untuk meredam tekanan tersebut, BI tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga. Bank sentral juga menggunakan instrumen lindung nilai untuk mendorong masuknya aliran modal ke pasar keuangan domestik.

Destry menjelaskan, BI memberikan insentif melalui instrumen swap dan DNDF. Kebijakan tersebut diarahkan untuk membuat investor lebih tertarik menempatkan dananya di Indonesia sekaligus membantu memperkuat likuiditas valuta asing.

“Kita memang memberikan targeted hedging incentive untuk mendorong inflow. Jadi bukan general policy rate, tapi kita berikan targeted hedging incentive. Dan ini setelah kurang lebih satu bulan, kita sudah melihat inflow sekitar US$6 miliar melalui BNPF ataupun melalui swap,” jelas Destry.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Anjlok Dekati Rp18.000 per USD di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Baca Juga: Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat di Level Rp17.903 per USD

Destry mengatakan pilihan menggunakan instrumen yang lebih terarah juga mempertimbangkan kondisi pertumbuhan ekonomi nasional. BI menilai kenaikan suku bunga secara umum dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi.

“Karena kalau kita menaikkan 25 basis point BI Rate, kita sudah hitung itu akan mengurangi growth kurang lebih 0,1 persen. Jadi kita memang mencoba menggunakan policy tools yang targeted, tidak yang general, karena memang kita masih melihat growth ini juga menjadi concern kita,” ujarnya.

Di sisi lain, tekanan eksternal juga datang dari kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak pada 24 September 2026 tercatat mencapai US 125,3 per barel, jauh diatas rata-rata, Agustus 2026 yang berada di sekitar US90,88 per barel

Meski demikian, dalam paparannya Destry tidak secara langsung menyebut kenaikan harga minyak sebagai penyebab tekanan rupiah. BI tetap menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu fokus kebijakan, sembari menjaga agar kebijakan stabilisasi tidak mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra