Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kontrak Data Center CGK5-CGK7, Penjualan SEMA Diproyeksi Capai Rp2 Triliun pada 2027

Kontrak Data Center CGK5-CGK7, Penjualan SEMA Diproyeksi Capai Rp2 Triliun pada 2027 Kredit Foto: Semacom Integrated
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) berpotensi membukukan penjualan sekitar Rp2 triliun dan laba bersih sekitar Rp200 miliar pada 2027. Proyeksi tersebut dikaitkan dengan realisasi kontrak proyek data center CGK5 dan CGK7.

Analis MNC Sekuritas Christian menyampaikan proyeksi tersebut setelah mencermati keterbukaan informasi SEMA kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui surat Nomor SI-344/KI-Corsec/09/2026 tentang Tanggapan Perseroan atas Permintaan Penjelasan Bursa tertanggal 30 September 2026.

Menurut Christian, skala proyek CGK5 dan CGK7 serta posisi SEMA sebagai pemasok Power Train Unit (PTU) dan SKID berpotensi memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan.

“Dengan mempertimbangkan skala proyek Data Center CGK5 dan CGK7 serta posisi SEMA sebagai pemasok PTU dan SKID, kami melihat kontrak tersebut berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja perseroan,” ujar Christian.

Ia memperkirakan potensi penjualan yang dapat diperoleh SEMA dari proyek tersebut mencapai sekitar Rp2 triliun. Perkiraan itu mempertimbangkan data pembanding industri data center dan ruang lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab SEMA.

“Jika realisasi kontrak berjalan sesuai ekspektasi dan perseroan mampu mempertahankan tingkat margin yang memadai, laba bersih SEMA berpotensi meningkat signifikan dan mencapai sekitar Rp200 miliar pada 2027,” katanya.

Dalam keterbukaan informasinya, SEMA menjelaskan bahwa perseroan memperoleh kontrak terkait proyek Data Center CGK5 dan CGK7 sebagai pemasok PTU dan SKID. SEMA menyebut pekerjaan tersebut merupakan proyek berskala sangat besar dan bernilai material bagi pengembangan usaha.

Namun, nilai kontrak belum diungkapkan kepada publik. Perseroan menyatakan sejumlah informasi, termasuk identitas dan profil pemberi kerja, nilai kontrak dan rinciannya, skema pembayaran, struktur biaya, proyeksi internal, serta rincian teknis dan jadwal, bersifat rahasia berdasarkan Non-Disclosure Agreement (NDA) dan ketentuan kontraktual.

SEMA juga menegaskan bahwa perseroan bukan penyedia seluruh sistem kelistrikan dalam proyek CGK5 dan CGK7. Ruang lingkup pekerjaan SEMA terbatas pada panel listrik berupa PTU dan SKID serta kewajiban lain yang secara khusus disepakati dalam kontrak.

Christian menilai potensi penjualan SEMA perlu dilihat dari porsi pekerjaan yang menjadi tanggung jawab perseroan dalam rantai pengadaan infrastruktur kelistrikan, bukan dari keseluruhan nilai pembangunan data center.

Dalam keterbukaan informasi tersebut, SEMA turut mencantumkan sejumlah data pembanding kapasitas daya teknologi informasi pusat data, antara lain DCI E2 Surabaya sebesar 9 MW, STT Jakarta 1 sebesar 18 MW, DCI JK6 Cibitung sebesar 36 MW, dan NTT Jakarta 3 sebesar 45,6 MW.

Biaya konstruksi yang digunakan sebagai pembanding berada pada kisaran US$6,6 juta hingga US$11,2 juta per MW untuk kategori low, mid, dan high.

SEMA kemudian memberikan ilustrasi biaya untuk fasilitas hipotetis berkapasitas 50 MW. Dengan kurs JISDOR Rp17.877 per dolar AS pada 30 September 2026, estimasi biaya konstruksi berada pada kisaran Rp5,90 triliun hingga Rp10,01 triliun, dengan nilai tengah sekitar Rp7,42 triliun.

Perseroan menegaskan perhitungan tersebut hanya merupakan ilustrasi berdasarkan benchmark industri, bukan nilai investasi proyek CGK5 atau CGK7 maupun nilai kontrak SEMA.

Sementara itu, potensi laba bersih sekitar Rp200 miliar pada 2027 juga bergantung pada sejumlah faktor. Christian mengatakan kemampuan SEMA mempertahankan margin kontrak, mengendalikan biaya, serta waktu pengakuan pendapatan akan menentukan dampak kontrak tersebut terhadap kinerja keuangan.

“Yang menjadi kunci bukan hanya besarnya penjualan, tetapi juga margin kontrak dan pengendalian biaya. Selain itu, timing pengakuan pendapatan dan kebutuhan modal kerja akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap laba bersih,” ujar Christian.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat