Kredit Foto: Istimewa
Dukungan pengasuhan yang diberikan perusahaan tidak hanya membantu pekerja menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga, tetapi juga mendukung produktivitas dan retensi tenaga kerja. Untuk mendorong semakin banyak perusahaan mengadopsi praktik tersebut, Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan mitra pembangunan dalam Policy Dialogue on Employer-Supported Childcare (ESC): From Employer Experience to Care Policy and Action, sebagai bagian dari peringatan International Day of Care and Support 2026.
Bagi banyak pekerja yang memiliki tanggung jawab pengasuhan, terutama orang tua dengan anak usia dini, ketersediaan layanan pengasuhan yang aman, berkualitas, dan terjangkau menjadi faktor penting dalam mengelola tanggung jawab terhadap keluarga dan tempat kerja. Dampaknya dirasakan lebih besar oleh perempuan yang masih menanggung sebagian besar tanggung jawab pengasuhan dalam keluarga.
Keterbatasan akses terhadap dukungan pengasuhan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan perempuan untuk memasuki, bertahan, dan berkembang di dunia kerja. Saat ini, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih berada di kisaran 56 persen, sementara laki-laki di kisaran 84 persen.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dengan dunia usaha dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kebutuhan pengasuhan keluarga. Hal ini turut ditegaskan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifah Choiri Fauzi, dalam pidato sambutannya.
“Partisipasi ekonomi perempuan tidak hanya ditentukan oleh kesempatan untuk bekerja, tetapi juga oleh dukungan yang memungkinkan perempuan mendapatkan pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhannya secara seimbang. Oleh karena itu, pengasuhan anak bukan semata-mata urusan keluarga. Pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah, dan juga dunia usaha,” paparnya yang dikutip di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Selain menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak, Arifah juga memberikan gambaran mengapa dukungan pengasuhan penting untuk selalu diterapkan serta besarnya dampak yang bisa dirasakan bagi para pekerja, khususnya perempuan.
“Dalam konteks ini, Employer-Supported Childcare (Pengasuhan Anak yang Didukung Pemberi Kerja) menjadi salah satu langkah strategis. Dukungan dapat diwujudkan melalui fasilitas pengasuhan yang berkualitas, kemitraan dengan penyedia layanan, serta pengaturan kerja yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan keluarga. Selain membantu pekerja, praktik tersebut juga dapat mendukung produktivitas dan keberlanjutan tenaga kerja serta membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif dan ramah perempuan,” tegasnya.
Sementara itu, Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus pendiri IBCWE, mengungkapkan bahwa investasi pada dukungan pengasuhan memberikan manfaat yang nyata bagi dunia usaha.
"Sebuah perusahaan tekstil di Vietnam mencatat tingkat pergantian pekerja turun hingga sepertiga setelah membuka taman kanak-kanak di tempat kerja. Di Indonesia, studi menunjukkan bahwa tambahan satu prasekolah per 1.000 anak dapat meningkatkan produktivitas pabrik manufaktur dengan proporsi pekerja perempuan rata-rata sebesar 11 persen. Ini menunjukkan bahwa dukungan pengasuhan bukan hanya isu sosial, tetapi juga strategi bisnis yang berdampak nyata,” ujar Shinta.
Baca Juga: Pekerja Kena PHK Bisa Dapat Pesangon hingga 2 Kali Ketentuan, Ini Syaratnya
Baca Juga: Women’s World Banking: Kesehatan Finansial Jadi Kunci Utama Pemberdayaan UMKM Perempuan
Sejak 2024, IBCWE, melalui program Employer-Supported Childcare (ESC), bekerja sama dengan sejumlah perusahaan
mengembangkan berbagai bentuk dukungan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan pekerja dan kondisi bisnis masing-masing perusahaan. Bentuk dukungan tersebut antara lain mencakup pengaturan kerja fleksibel, cuti orang tua, serta pembuatan kebijakan yang membantu pekerja menjalankan tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan secara lebih seimbang.
Dalam forum ini, dua perusahaan mitra dalam proyek ESC berbagi pengalaman mengenai proses implementasi kebijakan dukungan pengasuhan di tempat kerja, mulai dari identifikasi kebutuhan pekerja hingga tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu pun model yang cocok untuk diterapkan di semua perusahaan, namun ada berbagai skema yang dapat disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan kebutuhan bisnis.
Melalui penyelenggaraan Policy Dialogue on Employer-Supported Childcare, IBCWE berharap perusahaan, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya berkolaborasi membangun ekosistem pengasuhan yang lebih tepat guna. Di tengah persaingan mendapatkan dan mempertahankan talenta terbaik, dukungan pengasuhan semakin menjadi bagian penting dari strategi bisnis yang membantu perusahaan mendukung produktivitas, memperkuat loyalitas pekerja, dan menjaga keberlanjutan tenaga kerja.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman