Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Termasuk Genk 212, Camkan Baik-Baik! Yahya Waloni Bukan Ustad, Ilmunya Masih Cetek!

        Termasuk Genk 212, Camkan Baik-Baik! Yahya Waloni Bukan Ustad, Ilmunya Masih Cetek! Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua Majelis Ulama Indonesia atau MUI, Cholil Nafis, ikut buka suara terkait kasus penistaan agama yang menyeret penceramah kontroversial Yahya Waloni.

        Menurut orang nomor satu di MUI ini, Yahya tidak bisa dikategorikan sebagai ustad lantaran ilumnya masih terbilang kurang lantaran label ustad seharusnya tak diberikan ke sembarang orang.

        “Ini gampangnya saja orang disebut ustaz. Kalau di Timur tengah, ustaznya sekelas profesor. Di sini, orang sering ke masjid lalu jadi takmir masjid, sudah jadi ustaz. Jadi, ya men-downgrade lah, memperendah istilah ustaz itu sendiri,” ujarnya sampaikan dalam program Apa Kabar Indonesia Malam yang tayang di tvOne, akhir pekan kemarin. Baca Juga: Percuma Genk 212 Ngancem-Ngancem, Belain Habib Rizieq Aja Gak Mampu, Eh Sok-sokan Belain Si Yahya

        “Ini yang sering saya sampaikan bagi teman-teman yang baru jadi mualaf, sampaikan yang tahu, yang pasti benarnya. Yang kemudian, jangan menjelekkan agama yang pernah dipeluknya. Apalagi membenturkan agama yang baru yang diyakini dengan agama yang pernah dipeluknya itu,” lanjut dia. Baca Juga: Jika Polisi Tak Segera Tangkap Muhammad Kece, Ancaman PA 212 Ngeri!

        Lebih lanjut ia menambahkan bahwa pihaknya mempunyai standar bagi penceramah di Indonesia.

        Namun, ia mengaku pihaknya tidak bisa melaraang seseorang untuk menjadi penceramah atau dipanggil ustad.

        Sebab, tidak ada aturan yang membuat MUI mesti melarang.

        “MUI memberikan standar kompetensi bagi penceramah, karena kami tidak bisa melarang penceramah. Mereka bikin acara sendiri, mengundang siapa yang diundang, tidak bisa kita batasi.”

        “Berbeda dengan negara sebelah seperti di Malaysia atau Brunei memang ada ketentuannya. Di kita tidak bisa melarang,” tutur dia.

        Kemudan, saat ditanya apakah Yahya Waloni pantas disebut ustad?

        Ia menjelaskan MUI memiliki kriteria sendiri untuk memastikan penceramah layak disebut ustad atau tidak. Namun, yang pasti, Yahya tidak masuk ke dalamnya.

        “Kalau itu (Yahya Waloni) bukan ustaz berstandar MUI. Kalau di luar disebut ustaz sangat luas tentang terminologi ustaz,” tegasnya.

        Sebelumnya, Novel Bamukmin mengatakan Yahya Waloni tidak merendahkan kepercayaan apapun.

        Sebab, ia menilai bahwa penceramah tersebut tengah memperkuat iman para jamaahnya.

        “Salah kaprah di negeri ini tentang mana yang menista, mana menjaga akidah,” ujarnya, seperti disadur, Sabtu (28/8/2021).

        Lanjutnya, ia memaparkan bahwa Yahya Waloni merupakan mualaf yang memahami agama sebelumnya.

        Dan kini, sambung orang dekat Habib Rizieq, Yahya sedang mendalami ajaran baru yang telah dianutnya sejak 15 tahun lalu.

        “Yahya Waloni itu paham akan agama sebelumnya dan akhirnya sadar menjadi mualaf lalu melakukan pendalaman tentang Islam,” paparnya.

        “Tupoksinya harus memberikan pemahaman yang jelas dan gamblang kepada umat dan begitu pun apa yang disampaikan oleh para pendeta,” tegasnya.

        Diketahui, aparat kepolisian yang tergabung dalam tim Bareskrim Polri dikabarkan menangkap penceramah kontroversial Yahya Waloni terkait penistaan terhadap agama Kristen. Kabarnya Yahya Waloni ditangkap lantaran menista injil.

        Menyitat berbagai sumber, Yahya Waloni ditangkap di kawasan Cibubur pada Kamis (26/8/2021).

        Adapun Yahya Waloni ditangkap oleh Tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

        Sebagaimana diketahui sebelumnya, Yahya Waloni dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh komunitas Masyarakat Cinta Pluralisme soal dugaan penistaan agama terhadap Injil.

        Yahya Waloni dinilai menista agama dalam ceramah yang menyebut Bible itu palsu.

        Adapun pelaporan yang mencatut namanya terdapat dalam Laporan Polisi (LP) Nomor: LP/B/0287/IV/2021/BARESKRIM.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Vicky Fadil

        Bagikan Artikel: