Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        4 Red Flag Backup Data yang Wajib Diwaspadai Perusahaan Indonesia di 2026

        4 Red Flag Backup Data yang Wajib Diwaspadai Perusahaan Indonesia di 2026 Kredit Foto: Synology
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Synology Inc mengatakan bahwa industri mesti bersiap dihadapkan pada risiko kehilangan data yang semakin kompleks, baik akibat serangan siber maupun kesalahan operasional, seiring meningkatnya adopsi transformasi digital di Indonesia. 

        Indonesia Country Manager Synology Inc, Clara Hsu mengatakan bahwa kebocoran data bisa mengancam keberlangsungan bisnis apabila tidak diantisipasi dengan strategi perlindungan data yang matang. Ia mengungkapkan sejumlah indikator risiko atau red flags yang perlu diwaspadai perusahaan agar sistem perlindungan data siap menghadapi tantangan di 2026.

        Baca Juga: Sinkronisasi dan Validasi Data Kunci Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana

        “Transformasi digital  berkembang sangat pesat, namun ketahanan data juga harus berjalan seiring. Backup saja tidak lagi cukup jika proses pemulihan data tidak bisa dijamin,” ujar Clara, dilansir Rabu (31/12).

        Red flag pertama adalah praktik backup yang bersifat parsial atau tidak menyeluruh. Menurut Clara, penambahan beban kerja atau aplikasi baru kerap tidak diikuti pembaruan kebijakan backup. Selain itu, masih banyak perusahaan yang hanya mencadangkan data tertentu yang dianggap penting.

        “Data yang tidak dibackup pada dasarnya sudah berada dalam kondisi berisiko,” jelasnya.

        Kondisi ini dapat menyulitkan proses pemulihan dan berpotensi mengganggu operasional bisnis secara signifikan.

        Red flag kedua adalah visibilitas data yang terfragmentasi. Pertumbuhan bisnis menyebabkan data tersebar di berbagai platform dan lokasi penyimpanan, sehingga menyulitkan pengawasan, meningkatkan risiko data tidak terlindungi, serta mempersulit kepatuhan terhadap regulasi.

        “Ketika sistem berjalan secara terpisah, perusahaan akan kesulitan memastikan apakah seluruh infrastrukturnya benar-benar aman,” kata Clara.

        Ia menilai pengelolaan data terpusat menjadi semakin krusial, terutama untuk memenuhi kebutuhan operasional dan regulasi pada 2026.

        Red flag ketiga berkaitan dengan keamanan backup yang belum memadai. Clara menegaskan bahwa memiliki backup saja tidak menjamin data dapat dipulihkan apabila salinan tersebut juga terdampak serangan, seperti ransomware.

        “Banyak perusahaan baru menyadari celah ini ketika satu-satunya salinan data bersih sudah tidak bisa digunakan,” ujarnya.

        Ia menyarankan penerapan backup immutable, penyimpanan off-site serta pengujian pemulihan secara berkala.

        Red flag keempat adalah akses terhadap data kritis yang tidak terkontrol. Seiring bertambahnya jumlah karyawan, akses ke data sensitif kerap meluas tanpa pembatasan yang jelas.

        “Tidak semua orang membutuhkan akses ke data yang bersifat kritikal,” tegas Clara.

        Ia menekankan pentingnya kontrol akses berbasis peran serta autentikasi yang kuat untuk meminimalkan risiko kebocoran data internal.

        Baca Juga: Salurkan Dana Tunggu Hunian, Bank Himbara akan Datangi Langsung Warga Terdampak Bencana Sumatera

        Clara memprediksi ketahanan data akan menjadi prioritas utama perusahaan di Indonesia. Menurutnya, fokus keamanan tidak lagi hanya pada pencegahan serangan, tetapi juga pada kemampuan bisnis untuk pulih dan kembali beroperasi dengan cepat setelah insiden terjadi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: