Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lifting Minyak Bumi 2025 Diklaim Lampaui Target, Pakar Soroti Anomali Data

        Lifting Minyak Bumi 2025 Diklaim Lampaui Target, Pakar Soroti Anomali Data Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Realisasi lifting minyak bumi tahun 2025 yang dilaporkan melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memicu polemik di kalangan praktisi hulu migas. Pencapaian tersebut dinilai bukan berasal dari peningkatan produksi riil, melainkan dari perubahan definisi dengan memasukkan komponen Natural Gas Liquid (NGL) dan kondensat ke dalam neraca lifting minyak.

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengumumkan bahwa lifting minyak bumi pada 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari (bph), atau 100,05% dari target APBN sebesar 605 ribu bph.

        “Kalau kita melihat target APBN kita 10 tahun terakhir di lifting itu enggak pernah tercapai. Alhamdulillah kali ini kita tercapai,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/1/2026).

        Namun, Ketua Komite Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi (Aspermigas) Moshe Rizal menilai pencapaian tersebut tidak dapat dibandingkan secara setara dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, pemerintah memasukkan komponen NGL yang sebelumnya tidak dihitung sebagai bagian dari lifting minyak mentah.

        Baca Juga: Lifting Minyak Bumi Lampaui Target, Ini Langkah Pemerintah Tingkatkan Produksi Migas

        “Lucu ya, maksudnya biar angkanya besar jadi dimasukin komponen yang sebelumnya (tidak ada). Kalau mau meng-compare secara fair, ya harusnya tahun-tahun sebelumnya masukkan juga NGL. Nanti kita lihat apa lifting-nya naik apa turun,” ujar Moshe kepada Warta Ekonomi, Senin (12/1/2026).

        Moshe menegaskan bahwa NGL, khususnya yang diproses menjadi LPG fraksi C3 dan C4, merupakan produk hasil pengolahan gas alam, sehingga secara teknis tidak tepat dimasukkan sebagai lifting minyak mentah.

        “LPG itu sesuatu yang sudah diproses. Harusnya tidak masuk sebagai definisi lifting minyak. Jangan menaikkan produksi melalui definisi, tapi melalui real data yang benar. Jadi seolah-olah main definisi untuk membuat semua jadi lebih bagus,” tegasnya.

        Berdasarkan data tahun 2024, lifting minyak bumi tercatat sebesar 579,7 ribu bph. Dengan klaim realisasi 605,3 ribu bph pada 2025, terdapat kenaikan sekitar 25.000 bph. Namun, Moshe mempertanyakan sumber kenaikan tersebut jika kontribusi NGL diperkirakan mencapai 22.000 hingga 23.000 bph.

        “Pertanyaannya, 25.000 barel itu dari mana, lapangan apa? Saya tahu Lapangan Rokan atau Cepu mungkin naik beberapa ribu barel, tapi jangan ditambahkan sesuatu yang sebelumnya enggak ada jadi seolah-olah angka tercapai. Itu tidak fairbagi publik karena menutupi sesuatu,” tambahnya.

        Baca Juga: Lifting Minyak 2025 Tembus Target, Pertama Kali dalam Sembilan Tahun

        Senada, Chief Executive Officer Institute for Essentials Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai capaian lifting 605,3 ribu bph tetap tergolong rendah jika dibandingkan dengan tren historis. Sejak 2020, target lifting minyak terus menurun dari 707 ribu bph menjadi 605 ribu bph pada 2025, atau turun sekitar 14,4%.

        Fabby juga menyoroti adanya perbedaan data antara Kementerian ESDM dan SKK Migas pada semester I-2025. Saat itu, Kementerian ESDM mencatat lifting sebesar 608,1 ribu bph, sementara SKK Migas mencatat 579,3 ribu bph karena tidak memasukkan NGL dalam perhitungan minyak.

        “Jika tanpa memasukkan NGL, kemungkinan volume lifting minyak bumi tidak sesuai target. Kondisi ini menunjukkan Indonesia masih tidak mampu mengurangi kenaikan impor minyak mentah dan BBM yang rata-rata mencapai 1 juta bph,” ungkap Fabby.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: