- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Investasi Sektor ESDM Melandai Rp 9,75 T Sepanjang 2025 di Tengah Ambisi Hilirisasi
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Kinerja investasi di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun fiskal 2025 menunjukkan tren perlambatan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kementerian ESDM, total realisasi investasi sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar US$ 31,7 miliar atau setara dengan Rp 515,12 triliun (asumsi kurs JISDOR Rp 16.250 per dolar AS).
Capaian tersebut mengalami defisit sebesar US$ 0,6 miliar atau sekitar Rp 9,75 triliun dibandingkan perolehan pada tahun 2024. Secara persentase, arus modal masuk ke sektor ini mengalami kontraksi sebesar 1,85% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam konferensi pers capaian kinerja tahun 2025 yang disampaian Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Kamis 8/1/2026, realisasi investasi terbagi ke dalam empat subsektor utama. Tercatat, sektor Minyak dan Gas Bumi (Migas) menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan yang menunjukkan performa positif.
Investasi di sektor Migas pada 2025 berhasil mencapai US$ 18 miliar (Rp 292,5 triliun), tumbuh dari capaian tahun 2024 yang sebesar US$ 17,5 miliar (Rp 284,37 triliun)
Namun, penguatan di sektor Migas gagal menopang penurunan tajam yang terjadi di sektor Mineral dan Batu Bara (Minerba). Investasi Minerba terkoreksi cukup dalam menjadi US$ 6,7 miliar (Rp 108,87 triliun) pada tahun 2025, turun signifikan dari angka US$ 7,7 miliar (Rp 125,12 triliun) pada periode tahun sebelumnya.
Baca Juga: PLN Distribusikan 1.000 Genset Kementerian ESDM, Bangkitkan Semangat Warga Aceh Pascabencana
Kelesuan investasi juga membayangi sektor infrastruktur ketenagalistrikan. Data menunjukkan arus investasi di sektor ini hanya menyentuh angka US$ 4,6 miliar atau setara Rp 74,75 triliun. Angka ini turun dibanding capaian tahun 2024 yang mampu menembus US$ 5,3 miliar (Rp 86,12 triliun).
Sementara itu, di lini Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), realisasi investasi tercatat sebesar US$ 2,4 miliar atau setara Rp 45,5 triliun. Meski secara nilai tukar rupiah terjadi penyesuaian, namun secara nominal dolar AS, angka ini melandai jika dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sempat mencapai US$ 2,8 miliar (Rp 29,25 triliun).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Istihanah