Kredit Foto: Dok. BPMI
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan strategi pemerintah menjaga dan meningkatkan iklim investasi nasional dilakukan melalui kepastian kebijakan, stabilitas, serta skema co-investment bersama investor. Langkah ini ditempuh di tengah persaingan ketat dengan negara-negara tetangga yang terus mereformasi regulasi untuk menarik arus modal global.
Rosan menyampaikan bahwa peningkatan iklim investasi menjadi keharusan karena Indonesia berkompetisi langsung dengan negara kawasan yang agresif memperbaiki kebijakan dan regulasi agar lebih transparan dan terukur. Menurutnya, kepastian menjadi faktor utama yang dicari investor.
“Pada saat orang berinvestasi, siapa pun itu, mereka tidak suka kejutan. Mereka maunya semua terukur dan terstruktur,” ujar Rosan dalam pernyataannya, Rabu (14/1/2026).
Baca Juga: Rosan Roeslani Tegaskan Keberlanjutan Investasi Tsingshan di Industri Nikel Indonesia
Di tengah upaya tersebut, Rosan mengungkapkan realisasi investasi Indonesia masih menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, investasi tumbuh sekitar 15,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk 2026, pemerintah menargetkan investasi menembus lebih dari Rp2.100 triliun sesuai target Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Ia menjelaskan, kehadiran Danantara menjadi instrumen penting dalam membangun kepercayaan investor. Melalui Danantara, pemerintah ikut menanamkan modal pada proyek-proyek yang dinilai layak sehingga risiko investasi dapat dimitigasi bersama.
“Kita bisa bilang ke mereka, Anda investasi ke Indonesia, dan Danantara, kalau itu memang investasi yang baik, kita sama-sama investasi bareng, kita sama-sama taruh equity dan permodalannya,” kata Rosan.
Baca Juga: Panggil Rosan, Prabowo Minta Progres Kampung Haji Indonesia
Menurutnya, keterlibatan langsung pemerintah dalam pendanaan proyek meningkatkan kepercayaan dan confidence investor terhadap keberlanjutan investasi.
Selain kepastian kebijakan dan skema pembiayaan, Rosan menekankan stabilitas nasional sebagai kekuatan utama Indonesia. Ia menilai perdamaian dan stabilitas politik menjadi faktor krusial dalam keputusan investasi jangka panjang.
“Kalau ada keributan, itu mempunyai dampak. Bisa mereduksi kepercayaan dan mengurangi potensi investasi ke depan,” ujarnya. Ia menambahkan, setiap gangguan stabilitas menuntut upaya khusus pemerintah untuk menjelaskan mitigasi risiko dan dampaknya terhadap keberlanjutan investasi.
Rosan juga menyoroti bonus demografi sebagai daya tarik tambahan bagi investor. Ketersediaan tenaga kerja produktif dan sumber daya manusia yang kompeten menjadi salah satu faktor yang dinilai investor saat menanamkan modal di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia memiliki seluruh ingredients untuk tumbuh lebih cepat, mulai dari stabilitas, pasar besar, hingga talenta. Namun, ia mengakui bahwa kebijakan dan regulasi yang belum adaptif masih berpotensi menahan laju pertumbuhan.
Dalam konteks tersebut, pemerintah terus mengakselerasi reformasi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkeadilan. Rosan menegaskan, peningkatan iklim investasi akan menjadi fondasi bagi masuknya modal secara berkelanjutan dan berdampak positif terhadap perekonomian nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri