Kredit Foto: Uswah Hasanah
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa aksi jual bersih (net sell) investor asing yang besar tidak lagi berdampak signifikan terhadap pergerakan indeks saham domestik. Jika lima hingga sepuluh tahun lalu net sell asing hampir pasti menekan indeks, pada 2025 kondisi tersebut justru berbalik, dengan indeks ditutup di posisi tertinggi meski terjadi aksi jual asing dalam jumlah besar.
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan ketahanan pasar modal Indonesia meningkat seiring kematangan investor domestik dalam menghadapi tekanan global, termasuk ketidakpastian ekonomi dunia dan dinamika geopolitik. Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai gejolak dalam beberapa tahun terakhir membentuk perilaku investor yang lebih rasional.
“Ini bukan gejolak geopolitik pertama dalam lima sampai sepuluh tahun terakhir. Dua hingga tiga tahun terakhir saja kita sudah beberapa kali mengalaminya, dan investor kita dari waktu ke waktu semakin baik dalam mengantisipasi implikasinya,” ujar Jeffrey, dikutip Kamis (15/1/2026).
Baca Juga: Regulasi Saham dan Free Float Dorong BEI Masuk Top 10 Dunia
Jeffrey menjelaskan, kematangan investor tercermin dari pendekatan berbasis manajemen risiko dan fokus pada fundamental. Investor domestik tidak lagi bereaksi berlebihan terhadap sentimen global jangka pendek, sehingga tekanan eksternal tidak langsung berujung pada pelemahan pasar secara signifikan.
Ia menambahkan, agenda pendalaman pasar yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir turut memperkuat struktur pasar modal nasional. Penguatan tersebut membuat pasar lebih adaptif terhadap perubahan kondisi global, termasuk saat investor asing melakukan aksi jual dalam skala besar.
“Kalau lima sampai sepuluh tahun lalu asing melakukan net sell sebesar itu, indeks kita hampir pasti turun. Tapi tahun lalu, meskipun asing melakukan net sell yang cukup besar, indeks justru ditutup di posisi tertinggi,” jelas Jeffrey.
Baca Juga: BEI Tegaskan Demutualisasi Tak Sama dengan IPO
BEI mencatat dominasi investor domestik, baik ritel maupun institusi, semakin kuat dan berperan besar dalam menjaga stabilitas pasar. Keterlibatan investor domestik yang meningkat membantu menyerap tekanan dari arus modal asing yang bersifat fluktuatif.
Jeffrey menyebut kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia menjadi lebih independen dari pergerakan dana asing. Dengan basis investor domestik yang lebih besar, volatilitas akibat sentimen eksternal dapat diredam secara lebih efektif.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan edukasi investor dan perlindungan pasar untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan pasar modal. Menurutnya, pemahaman risiko dan kondisi pasar menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian global.
“Disikapi sesuai dengan pasarnya, pahami risikonya, lalu lihat kondisi yang ada. Dengan cara itu, pasar kita bisa bertahan dan terus berkembang,” tambahnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: