Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Regulasi Saham dan Free Float Dorong BEI Masuk Top 10 Dunia

Regulasi Saham dan Free Float Dorong BEI Masuk Top 10 Dunia Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai penguatan regulasi saham, termasuk pengaturan free float dan kapitalisasi pasar, menjadi kunci peningkatan skala pasar modal Indonesia guna mengejar target masuk jajaran 10 bursa terbesar dunia pada 2030. Kebijakan tersebut dinilai mendorong likuiditas, memperluas basis investor, serta memperkuat struktur pasar secara berkelanjutan.

Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan saham tetap menjadi instrumen utama dalam pengembangan pasar modal, terutama dengan dukungan regulasi yang lebih terstruktur, mulai dari pengaturan market capitalizationfree float, hingga batasan kepemilikan saham.

“Untuk berinvestasi di berbagai instrumen tentu dibutuhkan modal, dan salah satunya adalah saham. Dengan pengaturan market capfree float, batasan per saham, hingga porsi investasi saham yang cukup besar, potensi pasarnya juga menjadi besar,” kata Jeffrey, Kamis (15/1/2026).

Baca Juga: Masa Jabatan Iman Cs Segera Berakhir, OJK MInta Direksi Baru BEI Lakukan Ini

Menurut Jeffrey, regulasi tersebut berperan sebagai pendorong baru (boosting) bagi peningkatan skala pasar. Aturan yang konsisten dinilai mampu meningkatkan likuiditas, memperluas partisipasi investor, serta membentuk pasar yang lebih sehat dan efisien.

Ia menjelaskan, penguatan regulasi saham juga berdampak pada meningkatnya ketahanan pasar di tengah tekanan global. Dalam beberapa periode volatilitas internasional, peran investor domestik dinilai semakin dominan dalam menjaga stabilitas pasar.

“Tahun lalu, asing melakukan net sell yang cukup besar, tetapi indeks justru ditutup di posisi tertinggi. Itu menunjukkan bahwa kekuatan investor domestik kita sudah jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya,” ujar Jeffrey.

BEI mencatat, penguatan basis investor domestik baik ritel maupun institusi menjadi fondasi utama dalam agenda pendalaman pasar. Jeffrey menekankan bahwa kontribusi investor domestik terhadap nilai transaksi dan kepemilikan saham lebih penting dibandingkan sekadar persentase kepemilikan asing.

“Yang paling penting bukan persentasenya, tetapi kita memiliki basis investor domestik yang kuat, baik dari sisi kepemilikan maupun kontribusinya terhadap nilai transaksi,” katanya.

Baca Juga: Purbaya Minta Direksi BEI Berantas Saham Gorengan

Dengan dukungan regulasi saham dan free float yang lebih optimal, BEI menilai peluang percepatan target jangka panjang semakin terbuka. Ambisi menjadikan pasar modal Indonesia sebagai salah satu bursa utama dunia diproyeksikan dapat tercapai lebih cepat dari rencana awal.

“Target menjadi bursa top 10 dunia memang diproyeksikan pada 2030. Namun, dengan rumus yang tepat, penguatan investor domestik, pendalaman pasar, serta perlindungan investor yang semakin baik, target itu bisa dicapai lebih cepat,” jelas Jeffrey.

Ia menambahkan, keberhasilan pasar modal tidak hanya diukur dari lonjakan transaksi jangka pendek, tetapi dari kemampuan membangun struktur pasar yang dalam, likuid, dan tahan terhadap tekanan eksternal.

“Jika basis investor domestik terus tumbuh seiring dengan masuknya investor asing yang lebih besar, maka pasar kita bisa berkembang tiga hingga empat kali lipat dari ukuran saat ini, dengan ketahanan yang jauh lebih kuat,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: