Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kelas Menengah Tertekan, Kadin Soroti PR Ekonomi

        Kelas Menengah Tertekan, Kadin Soroti PR Ekonomi Kredit Foto: Inovasi Muda
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai tekanan yang terus dialami kelompok kelas menengah bawahmenjadi pekerjaan rumah (PR) utama ekonomi nasional, di tengah struktur perekonomian yang masih bertumpu pada konsumsi dan investasi. 

        Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Indonesia Aviliani menjelaskan, struktur ekonomi Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. Konsumsi berkontribusi sekitar 57 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara investasi menyumbang sekitar 30 persen. Di sisi lain, kontribusi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)relatif terbatas, yakni sekitar 8,7 persen terhadap PDB.

        Dalam struktur tersebut, Kadin menilai persoalan utama justru muncul pada kelompok kelas menengah bawah yang kontribusinya terhadap perekonomian dinilai belum optimal.

        “Yang justru bermasalah adalah kelas menengah bawah. Kontribusinya hanya sekitar 17 persen, padahal jumlahnya mencapai 75 juta orang dan pendapatannya cenderung menurun,” ujar Aviliani, dalam acara Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

        Baca Juga: Kadin Perkuat Diplomasi Ekonomi di Era Prabowo

        Ia menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan antara besarnya populasi kelas menengah bawah dengan sumbangannya terhadap konsumsi nasional. Saat ini, konsumsi nasional masih didominasi oleh kelompok kelas atas dan menengah atas yang menyumbang sekitar 70 persen.

        Sementara itu, kelompok masyarakat bawah yang jumlahnya sekitar 25 juta orang hanya berkontribusi sekitar 13 persenterhadap konsumsi nasional. Berdasarkan catatan Kadin, posisi kelas menengah bawah menjadi semakin rentan karena daya beli yang terus tertekan.

        Menurut Aviliani, tekanan tersebut tidak hanya berdampak pada konsumsi jangka pendek, tetapi juga berisiko menghambat kualitas pertumbuhan ekonomi ke depan. Oleh karena itu, Kadin menilai peningkatan penyerapan tenaga kerja menjadi agenda krusial untuk mendorong kelompok kelas menengah bawah naik kelas.

        “PR kita bersama, terutama sektor swasta dan anggota Kadin, adalah bagaimana mendorong penyerapan tenaga kerja agar kelompok 75 juta orang ini bisa naik kelas dan berkontribusi lebih besar terhadap konsumsi nasional,” tegasnya.

        Baca Juga: Kadin Siapkan Empat Agenda Jaga Ketahanan Ekonomi

        Aviliani juga menekankan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mengatasi persoalan tersebut. Dengan ruang fiskal yang terbatas, peran sektor swasta dinilai semakin penting, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong aktivitas ekonomi produktif.

        Optimalisasi penerimaan pajak dari aktivitas ekonomi swasta dinilai menjadi salah satu penopang keberlanjutan program sosial dan upaya penguatan daya beli masyarakat.

        Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat arah kebijakan ekonomi nasional untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.

        “Saya rasa di tengah ketidakpastian global yang berasal dari perlambatan ekonomi dan peningkatan tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap resilien dengan tingkat risiko resesi relatif rendah, berdasarkan Bloomberg, dibandingkan dengan AS, China, dan Jepang,” pungkas Airlangga.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Uswah Hasanah
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: