Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pasar Kripto Indonesia Diproyeksikan Tahan Terhadap Tekanan Global

        Pasar Kripto Indonesia Diproyeksikan Tahan Terhadap Tekanan Global Kredit Foto: CFX
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Central Finansial X (CFX) memproyeksikan pasar aset kripto Indonesia tetap bertahan menghadapi tekanan ekonomi global menjelang 2026, meskipun eskalasi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan internasional masih berlanjut. Ketahanan tersebut dinilai ditopang oleh dominasi aset berkapitalisasi besar, peningkatan partisipasi investor institusi, serta pertumbuhan signifikan jumlah konsumen dan korporasi domestik.

        Direktur Utama Bursa CFX Subani mengatakan dinamika makroekonomi global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar kripto nasional. Namun, tekanan global dinilai belum cukup kuat untuk menggerus minat masyarakat terhadap investasi aset digital.

        “Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi makroekonomi global masih menjadi faktor penentu pertumbuhan industri aset kripto di Indonesia. Namun, instabilitas global tidak cukup untuk menghilangkan minat konsumen dalam berinvestasi di aset kripto. Karena itu, kami melihat perkembangan industri aset kripto diperkirakan masih akan menunjukkan tren yang relatif positif memasuki tahun 2026,” kata Subani dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).

        Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Bursa CFX Proyeksikan Industri Kripto Tetap Tumbuh di 2026

        CFX mencatat ketahanan pasar kripto nasional sepanjang 2025 didukung oleh aktivitas perdagangan yang didominasi aset berkapitalisasi besar dan likuid. Berdasarkan data Bursa CFX, lima aset kripto yang paling banyak diperdagangkan selama 2025 adalah USDT, BTC, SOL, ETH, dan XRP.

        Subani menilai dominasi aset berlikuiditas tinggi tersebut membantu menjaga stabilitas pasar di tengah fluktuasi global. Selain itu, struktur pasar kripto Indonesia kini dinilai lebih kuat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

        Stabilitas pasar juga diperkuat oleh meningkatnya keterlibatan investor institusi. Menurut Subani, kehadiran korporasi sebagai pelaku pasar menciptakan kedalaman likuiditas yang lebih baik.

        “Kehadiran investor institusi ini menjadi satu pembeda fundamental di industri aset kripto dibandingkan beberapa tahun lalu. Keterlibatan mereka membuat likuiditas pasar menjadi jauh lebih dalam, dan kami melihat ini membantu pasar menjadi lebih stabil dalam meredam potensi fluktuasi ekstrem,” ujarnya.

        Dari sisi basis pengguna, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 19,56 juta per November 2025. Angka tersebut meningkat 51,4% dibandingkan posisi akhir Januari 2025.

        Subani menilai pertumbuhan jumlah konsumen menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri aset kripto nasional. Menurutnya, meski pasar keuangan global berada dalam tekanan, minat masyarakat terhadap aset digital masih terjaga.

        Baca Juga: ICEX Masuk Bursa Kripto, Siap Bersaing dengan CFX

        Selain konsumen ritel, minat korporasi terhadap aset kripto juga menunjukkan peningkatan. Data OJK mencatat jumlah korporasi yang memiliki aset digital mencapai 973 entitas per November 2025, naik dari 581 korporasi pada Februari 2025 atau tumbuh sekitar 67,5% dalam periode kurang dari satu tahun.

        “Sebagai penyelenggara bursa, kami meyakini bahwa tren adopsi aset digital oleh korporasi akan berlanjut ke depannya. Untuk mendorong akselerasi pertumbuhan adopsi korporasi, dibutuhkan perluasan akses pasar termasuk dalam hal ini konsumen institusi asing,” kata Subani.

        Peningkatan jumlah konsumen dan korporasi tersebut dinilai mendorong kebutuhan akan likuiditas pasar yang memadai agar transaksi berskala besar dapat berjalan efisien. Likuiditas juga disebut menjadi prasyarat penting untuk membangun pasar kripto yang semakin matang dan menarik bagi investor institusi.

        Sejalan dengan itu, Bursa CFX menyiapkan pengembangan produk untuk menjawab kebutuhan pelaku pasar. Salah satunya adalah produk derivatif kripto yang sepanjang 2025 mencatat nilai transaksi Rp64,16 triliun, dengan 178 kontrak aktif per 31 Desember 2025.

        “Produk ini diharapkan dapat membantu pelaku pasar melakukan lindung nilai melalui kontrak dengan leverage dan bisa memanfaatkan kondisi pasar ketika naik atau turun, tanpa bergantung pada transaksi di pasar spot,” ujar Subani.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: