Kredit Foto: Xinhua
Produsen suku cadang otomotif Thailand tengah menghadapi pada awal tahun 2026 sudah harus menghadapi masa sulit karena Meksiko, salah satu perakit mobil utama, kini memberlakukan tarif pada barang, termasuk komponen mobil, dari negara-negara tanpa perjanjian perdagangan bebas (FTA).
"Kami sedang mengumpulkan data untuk melihat seberapa besar dampak yang akan dirasakan oleh produsen dan eksportir," kata Sekretaris Federasi Industri Thailand (FTI) Suphot Sukphisarn.
Banyak produsen suku cadang mengekspor produk ke pabrik perakitan di Meksiko tempat kendaraan dirakit dan diekspor ke AS. Dikutip dari Bangkok Post, Meksiko telah memberlakukan tarif mulai dari 5% hingga 50% pada barang dari negara-negara non-FTA mulai 1 Januari.
Baca Juga: China Awasi Implementasi Gencatan Senjata Thailand-Kamboja
Tarif tersebut berlaku untuk lebih dari 1.000 lini tarif dan diperkirakan akan memengaruhi produk kebutuhan sehari-hari dan input industri, dengan suku cadang otomotif menghadapi tarif tertinggi.
Produsen suku cadang otomotif kemungkinan akan menghadapi pajak impor sebesar 25-35%, tergantung pada jenis suku cadangnya. Tarif dapat meningkat hingga 38% jika pajak negara yang paling disukai sebesar 2-3% disertakan.
"Kami memperkirakan akan dapat menentukan skala dampak pada perusahaan suku cadang otomotif pada akhir bulan ini," kata Bapak Suphot.
Menurut FTI, terdapat sekitar 1.700 produsen suku cadang otomotif di Thailand. Sebagian besar adalah produsen peralatan asli (OEM) kecil dan menengah, yang dikategorikan sebagai Tier 2 dan Tier 3 dalam rantai pasokan suku cadang otomotif.
Ia mengatakan ia memperkirakan tarif baru Meksiko akan memberikan pukulan terhadap daya saing eksportir suku cadang, menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan pesaing di Eropa seperti Polandia dan Ceko.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat