- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Setelah Solar, Bahlil Pastikan RI Setop Impor Avtur dan Bensin pada 2027
Kredit Foto: Ist
Indonesia bersiap mengakhiri ketergantungan panjang terhadap produk bahan bakar minyak (BBM) jadi dari pasar global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mematok target ambisius pada tahun 2027, Indonesia dipastikan berhenti mengimpor bensin (gasoline) dan avtur.
Kebijakan ini menandai pergeseran fundamental dalam strategi ketahanan energi nasional. Fokus pemerintah ke depan akan beralih sepenuhnya pada impor minyak mentah (crude oil) untuk dioptimalkan melalui kapasitas kilang di dalam negeri.
"Agar 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor avtur, solar C51, kemudian bensin yang RON 92, 95, 98," tegas Bahlil dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1/2026).
Langkah agresif ini diambil untuk menutup defisit pasokan bensin domestik yang cukup lebar. Saat ini, konsumsi bensin nasional menyentuh angka 39 hingga 40 juta kiloliter (KL) per tahun, sementara produksi kilang lokal baru mampu memasok sekitar 14 juta KL.
Baca Juga: Surplus 1,4 Juta KL, Bahlil Pastikan RI Setop Impor Solar di 2026!
Guna menutup celah tersebut, pemerintah mengandalkan dua tumpuan utama yakni operasional kilang RDMP Balikpapan dengan kapasitas 5,8 juta KL per tahun serta akselerasi mandatori etanol 10 persen yang diproyeksikan mampu memangkas kebutuhan impor hingga 3,9 juta KL.
"Nah harapan kita 2027 kita tidak lagi melakukan impor bensin dalam bentuk jadi, tetapi kita impor crude yang kita kelola di kilang-kilang kita sendiri....Jadi yang kita impor itu yang RON 90 saja yang untuk subsidi" tambahnya.
Ambisi swasembada ini juga merambah pada komoditas bahan bakar penerbangan atau avtur. Menariknya, pasokan avtur nasional ke depan tidak akan lagi mengandalkan pasar luar negeri, melainkan melalui proses konversi dari kelebihan produksi solar yang saat ini sedang diupayakan bersama PT Pertamina (Persero).
"Avtur juga demikian. Jadi avtur untuk 2026 sekarang kami dengan Pertamina bekerja keras agar kelebihan solar yang 1,4 juta dikonversi menjadi bahan baku dalam membangun avtur," jelas Bahlil.
Baca Juga: Bahlil: Impor Solar 2026 Masih Dibuka untuk Kualitas Tinggi
Kepercayaan diri pemerintah untuk menyetop impor bensin dan avtur pada 2027 sebenarnya berpijak pada keberhasilan tata kelola solar yang lebih dulu mencapai titik stabil.
Bahlil mengungkapkan, Indonesia telah mencatatkan surplus produksi solar sebesar 1,4 juta KL, yang dipicu oleh efektivitas program mandatori biodiesel B40.
Data menunjukkan, sepanjang tahun 2025, volume impor solar berhasil ditekan hingga ke level 5 juta KL berkat realisasi mandatori biodiesel yang menembus 14,2 juta KL.
Dengan kondisi pasokan yang melampaui kebutuhan nasional tersebut, Bahlil memastikan keran impor solar, terutama jenis CN 48 akan ditutup total mulai tahun 2026.
"Oleh karena kita surplus 1,4 juta kiloliter maka 2026 kita tidak lagi, saya ulangi tidak lagi kita melakukan impor solar," tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri