Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Terancam Tembus Rp17.000 dan Beban Subsidi BBM Membengkak

Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Terancam Tembus Rp17.000 dan Beban Subsidi BBM Membengkak Kredit Foto: ANI Photo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz. Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan salah satu jalur laut paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen produksi minyak global melintasinya.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar terhadap pasokan minyak dunia dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global. Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

“Pertama, jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak global bisa melonjak sehingga meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia. Hal ini berpotensi memaksa pemerintah merealokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial,” ujar Rahma dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).

Selain itu, tekanan eksternal berpotensi memperdalam pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu inflasi barang impor, mengingat sebagian besar bahan baku industri manufaktur nasional masih bergantung pada pasar luar negeri.

Untuk meminimalkan dampak tersebut, Rahma mendorong pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Pertama, memperkuat fondasi ekonomi dengan fokus pada pembangunan ekonomi domestik, khususnya sektor energi, guna mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan menghadapi fluktuasi harga minyak dunia.

Kedua, diversifikasi energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk menekan ketergantungan pada minyak dan gas. Ketiga, diplomasi aktif melalui peningkatan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah serta organisasi internasional guna mendorong penyelesaian konflik secara damai.

Baca Juga: Perang Israel-Iran Pecah, Emas Diproyeksi Cetak Rekor Baru

Baca Juga: Operasi Besar Dimulai ke Iran, Apa Tujuan AS-Israel dan Apa Dampaknya ke Dunia?

Baca Juga: Pasar Global Libur, Kripto Jadi Sasaran Trader Lindungi Aset di Tengah Perang AS-Iran

Keempat, penguatan aspek keamanan melalui peningkatan keamanan siber dan intelijen untuk mengantisipasi potensi ancaman radikalisasi dan terorisme.

“Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini sangat kompleks dan tidak stabil. Indonesia perlu mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi dampak ekonomi dan keamanan dari konflik ini,” pungkas Rahma.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: