Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kenapa Jakarta Dilanda Hujan Ekstrem Akhir-akhir ini? Begini Penjelasannya Menurut BMKG

        Kenapa Jakarta Dilanda Hujan Ekstrem Akhir-akhir ini? Begini Penjelasannya Menurut BMKG Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jakarta dalam beberapa minggu ini terus menerus dilanda hujan, beberapa warga menanggap ini adalah masalah musiman, akan tetap bila merujuk prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hujan bukan sembarang hujan, tetapi ada beragam jenis berdasarkan intensitasnya.

        BMKG mengelompokkan hujan ke dalam kategori khusus berdasarkan volume air yang jatuh selama satu hari.

        1. Hujan ringan terjadi ketika curah air berkisar 5 hingga 20 milimeter per hari
        2. Hujan sedang berada pada rentang 20 hingga 50 milimeter per hari.
        3. Hujan mencapai 50 hingga 100 milimeter per hari, statusnya sudah masuk kategori lebat, di kategori ini sistem drainase umumnya masih mampu bekerja, meski beberapa titik mulai banjir.

        Warga diminta perlu meningkatkan kewaspadaan bila curah hujan menembus 100 milimeter per hari atau masuk kategori hujan sangat lebat.

        "Pada kondisi ini, air datang hampir bersamaan dan saluran drainase mulai bekerja mendekati batas maksimalnya. Jika angka tersebut terus naik hingga melampaui 150 milimeter per hari, hujan dikategorikan sebagai hujan ekstrem dan berpotensi menciptakan luapan air ke permukaan," tulis catatan sosialisasi dari BPBD DKI Jakarta yang mengutip laporan BMKG.

        Sebagai gambaran, curah hujan 150 millimeter sama halnya dengan menuangkan 8 galon air mineral sekaligus ke atas ubin ukuran 1x1 meter.

        ika air sebanyak itu turun secara bersamaan di satu lingkungan Rukun Tetangga (RT), jumlah air yang tumpah akan melebihi kecepatan saluran air untuk menampungnya serta kemampuan tanah untuk menyerapnya. Hal inilah yang memicu munculnya genangan secara cepat di berbagai titik.

        Prakiraan BMKG untuk periode 20 hingga 26 Januari 2026 menunjukkan potensi curah hujan harian yang bisa menyentuh angka 213,4 mm per hari, itu artinya hujan ekstrem.

        "Jika kita bandingkan dengan kondisi normal yang paling hanya berkisar 10–20 mm, maka Jakarta saat ini sedang menerima beban air lebih dari sepuluh kali lipat dari kondisi idealnya,"

        Secara geografis, Jakarta berada di wilayah muson tropis yang pola hujannya dipengaruhi oleh pergerakan angin antara benua Asia dan Australia.

        Posisi ini menyebabkan Jakarta selalu dilewati gumpalan uap air dalam jumlah besar, sehingga perubahan arah angin sedikit saja akan langsung menentukan seberapa deras hujan yang turun di ibu kota.Pada periode muson barat di bulan November hingga Maret, angin dari Benua Asia yang membawa banyak uap air bertiup kencang menuju Indonesia, sehingga awan hujan terbentuk lebih banyak dan sering.

        Sebaliknya, pada periode muson timur di bulan Juni hingga September, angin dari Australia yang kering menyebabkan curah hujan menurun drastis.

        Selain itu, intensitas hujan Jakarta juga diperkuat oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), yaitu gelombang awan hujan yang bergerak di sepanjang khatulistiwa. Saat MJO melintasi Indonesia, Jakarta bisa mengalami hujan ekstrem selama beberapa hari

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: