Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Pemerintah kembali menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 dengan kupon tetap hingga 5,80% per tahun sebagai alternatif investasi berisiko rendah di tengah ketidakpastian pasar keuangan. ORI029 ditawarkan dalam dua tenor dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah masa holding period.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Surat Utang Negara (SUN) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, mengatakan ORI029 dirancang untuk memberikan kepastian imbal hasil kepada investor hingga jatuh tempo karena menggunakan skema kupon tetap (fixed rate).
“Kupon ORI029 bersifat tetap sampai dengan jatuh tempo. Artinya, investor sudah mengetahui sejak awal berapa tingkat imbal hasil yang akan diterima,” ujar Novi dalam paparan media, Senin (26/1/2026).
Baca Juga: BI Catat Utang Luar Negeri RI Menyusut Jadi US$423,8 miliar di November 2025
Pada penerbitan kali ini, pemerintah menawarkan ORI029 dalam dua pilihan tenor. ORI029T3 dengan tenor tiga tahun memberikan kupon sebesar 5,45% per tahun dan akan jatuh tempo pada 15 Februari 2029.
Sementara itu, ORI029T6 dengan tenor enam tahun menawarkan kupon yang lebih tinggi, yakni 5,80% per tahun, dengan jatuh tempo pada 15 Februari 2032. Kupon dibayarkan secara bulanan ke rekening investor setelah dipotong pajak final sebesar 10%.
Menurut Novi, perbedaan kupon antara kedua tenor mencerminkan kurva imbal hasil yang normal, di mana tenor yang lebih panjang memberikan kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi.
“Skema ini memberikan fleksibilitas bagi investor untuk menyesuaikan pilihan investasi dengan kebutuhan arus kas dan horizon waktu,” kata Novi.
Selain kepastian kupon, ORI029 juga memiliki fitur tradable atau dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah melewati masa holding period. Fitur ini memberikan peluang bagi investor untuk memperoleh capital gain apabila harga ORI di pasar sekunder berada di atas harga pembelian.
“Karena ORI ini bisa diperdagangkan, investor tidak harus menunggu sampai jatuh tempo. Setelah holding period selesai, ORI dapat dijual di pasar sekunder,” jelas Novi.
Baca Juga: Kantor Purbaya Ungkap Pemerintah Tarik Utang Baru Rp736,3 triliun Hingga Desember 2025
Ia menambahkan, keberadaan pasar sekunder memberikan fleksibilitas likuiditas bagi investor ritel yang membutuhkan dana sebelum jatuh tempo, sekaligus memperkenalkan mekanisme perdagangan obligasi kepada masyarakat.
Di tengah volatilitas pasar keuangan global, ORI029 dinilai menjadi instrumen penyeimbang dalam portofolio investor ritel. Kepastian kupon bulanan memberikan arus kas yang stabil, sementara pembayaran kupon dan pokok dijamin oleh undang-undang.
“Pembayaran kupon dan pokok ORI dijamin oleh undang-undang, sehingga risikonya sangat rendah,” ujar Novi.
ORI029 dapat dibeli secara daring melalui sistem e-SBN selama masa penawaran pada 26 Januari hingga 19 Februari 2026. Pemerintah menunjuk 28 mitra distribusi yang terdiri dari bank dan perusahaan efek.
Nilai minimal pemesanan ditetapkan sebesar Rp1 juta dengan kelipatan Rp1 juta, sehingga dapat diakses oleh investor ritel dari berbagai lapisan. Pemerintah juga menetapkan batas maksimal pembelian untuk menjaga pemerataan partisipasi investor.
Penerbitan ORI029 juga bertujuan memperkuat pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui sumber domestik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri