Kredit Foto: Reuters
Iran buka suara terkait dengan kondisi dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Hal ini menyusul rumor bahwa sosok tersebut menjadi korban serangan dari Israel dan Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, Iran mengatakan bahwa sang pemimpin baru mengalami luka ringan namun ia tetap menjalankan tugas kepemimpinan negara. Ia sendiri tak memberikan rincian kapan atau bagaimana kejadian tersebut terjadi.
Baca Juga: Kas Amerika Serikat Digerus Perang Iran: Ratusan Triliun Lenyap dalam Seminggu
Mojtaba sendiri belum pernah muncul di hadapan publik maupun menyampaikan pidato resmi Sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi dari Iran. Ketidakhadirannya memicu berbagai spekulasi di dalam negeri bahwa ia mengalami luka dalam serangan udara dari Amerika Serikat dan Israel.
Sejumlah analis menilai alasan belum munculnya sosok pemimpin baru tersebut ke publik kemungkinan terkait faktor keamanan setelah pembunuhan dari Ali Khamenei. Serangan tersebut menjadi salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah politik modern dari Iran.
Diketahui, Konflik Iran-Amerika Serikat dan Israel sendiri diawali oleh serangan udara besar-besaran yang menargetkan pusat kekuasaan dari Teheran. Serangan awal tersebut bertujuan melumpuhkan struktur kepemimpinan negara dan menewaskan Ali Khamenei.
Media Iran juga menyebut serangan tersebut turut menewaskan anggota keluarga dari Mojtaba. Ia sendiri disebut sebagai “janbaz”, istilah yang digunaka untuk menyebut veteran perang yang mengalami luka.
Mojtaba kini dianggap sebagai pewaris perjuangan para “martir” yang gugur dalam serangan tersebut. Ia disebut-sebut sebagai simbol perlawanan dari Iran ke Amerika Serikat dan Israel.
Mojtaba dikenal sebagai sosok berpengaruh di balik layar yang mengelola kantor ayahnya. Ia masih dianggap sebagai figur yang relatif tidak dikenal karena jarang tampil di ruang publik.
Baca Juga: Tewaskan Ratusan Pelajar, Dugaan Rudal Amerika Serikat Menyasar Sekolah di Iran Makin Kuat
Ia juga dikenal sebagai ulama garis keras yang memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Hal ini membuka kemungkinan pemerintahan yang baru akan memperketat kontrol domestik hingga memperluas peran militer dari IRGC.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: