Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tekanan Fiskal Dinilai Uji Independensi Bank Indonesia

        Tekanan Fiskal Dinilai Uji Independensi Bank Indonesia Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

         
        Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai peningkatan tekanan fiskal dinilai berpotensi menguji independensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar rupiah. Pasalnya, stabilitas rupiah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada otoritas moneter, terutama ketika defisit fiskal melebar dan kebutuhan pembiayaan negara terus meningkat.

        Head of Center of Macroeconomics and Finance INDEF Rizal Taufikurahman menyampaikan bahwa tekanan fiskal yang menguat berisiko mendorong pergeseran beban stabilitas ekonomi dari kebijakan fiskal ke kebijakan moneter. Kondisi tersebut akan memperbesar tekanan terhadap Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah.

        “Kalau stabilitas rupiah bergeser menjadi beban bank sentral, maka risiko dominasi fiskal akan semakin besar. Ini akan mempersempit ruang kebijakan moneter,” ujar Rizal dalam diskusi publik INDEF, Selasa (27/1/2026).

        Baca Juga: Utang Valas Tinggi, Rupiah Rentan Guncangan

        Menurut Rizal, nilai tukar rupiah mencerminkan persepsi pasar terhadap keberlanjutan fiskal pemerintah. Defisit yang melebar membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar, sementara stagnasi rasio utang mempersempit ruang fiskal. Kombinasi tersebut, kata dia, menjadi sinyal awal tekanan terhadap nilai tukar yang pada akhirnya membebani otoritas moneter.

        INDEF menilai pasar keuangan tidak hanya menilai kebijakan moneter secara terpisah, tetapi juga memperhatikan konsistensi dan disiplin kebijakan fiskal. Ketika arah konsolidasi fiskal tidak jelas, tekanan terhadap rupiah berisiko meningkat dan memaksa Bank Indonesia mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.

        Rizal menegaskan stabilitas rupiah tidak dapat dijaga hanya melalui instrumen moneter. Diperlukan kebijakan fiskal yang kredibel, terutama dari sisi kualitas belanja dan keberlanjutan pembiayaan negara.

        “Nilai tukar tidak bisa hanya dijaga oleh kebijakan moneter. Harus ada fiskal yang kredibel, berbasis kualitas belanja dan keberlanjutan pembiayaan,” katanya.

        Dalam konteks tersebut, INDEF juga menyoroti pentingnya menjaga independensi Bank Indonesia di tengah dinamika fiskal dan politik. Rizal menyampaikan bahwa independensi bank sentral tidak hanya ditentukan oleh aturan formal, tetapi juga oleh disiplin tata kelola dan perilaku para pengambil kebijakan.

        Ia menilai kehadiran pejabat berlatar belakang fiskal di lingkungan otoritas moneter tidak serta-merta melemahkan independensi Bank Indonesia. Namun, independensi hanya dapat terjaga apabila terdapat komitmen yang jelas dan konsisten dalam membatasi diri dari kepentingan fiskal dan politik.

        “Independensi itu tidak otomatis melemah, tetapi harus dijaga dengan governance discipline. Baik secara individu maupun sistem,” ujarnya.

        Baca Juga: MSCI Rebalancing Dinilai Jadi Jalur Murah Stabilkan Rupiah

        Rizal menyebutkan sejumlah prasyarat untuk menjaga independensi bank sentral. Pertama, komitmen pimpinan otoritas moneter untuk menjaga jarak dari kepentingan politik dan fiskal. Kedua, sistem kelembagaan yang kuat di Bank Indonesia dan pemerintah agar kebijakan fiskal dan moneter berjalan sesuai mandat masing-masing.

        Ketiga, disiplin fiskal pemerintah menjadi faktor kunci untuk memperkuat kepercayaan pasar sekaligus mengurangi tekanan agar bank sentral menanggung beban stabilitas ekonomi secara berlebihan. Keempat, pengawasan parlemen yang profesional dan proporsional dinilai penting untuk menjaga independensi Bank Indonesia.

        “Pengawasan parlemen penting, tetapi harus profesional dan proporsional agar independensi bank sentral tetap terjaga,” kata Rizal.

        INDEF juga menilai tekanan terhadap independensi Bank Indonesia akan meningkat apabila koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tidak berjalan efektif. Ketergantungan pada arus modal jangka pendek dan sensitivitas terhadap sentimen global membuat stabilitas makroekonomi semakin rentan.

        “Tanpa disiplin fiskal yang konsisten, risiko dominasi fiskal terhadap kebijakan moneter akan semakin besar dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi jangka menengah,” jelas Rizal.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Uswah Hasanah
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: