Kredit Foto: Uswah Hasanah
Momentum rebalancing indeks global, khususnya MSCI, dinilai dapat menjadi instrumen strategis untuk menarik arus modal asing sekaligus membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dengan biaya moneter yang relatif rendah.
Di tengah tekanan eksternal terhadap rupiah, masuknya dana asing melalui mekanisme indeks dinilai lebih efisien dibandingkan intervensi langsung menggunakan cadangan devisa.
Senior Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak rekor tertinggi tidak terlepas dari ekspektasi pasar terhadap masuknya dana asing melalui MSCI rebalancing.
Mekanisme tersebut bekerja secara otomatis melalui algoritma investor global yang mengikuti perubahan komposisi indeks.
“Kita bicara mengenai potensi return on equity emiten ini bergerak. Salah satunya karena mau masuk MSCI, ini MSCI rebalancing,” ujar Fithra, dikutip Minggu (25/1/2026).
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor, Rupiah Masih Tertekan: Faktor Ekspektasi dan Modal Asing Jadi Penentu
Menurut dia, ketika saham Indonesia masuk atau bobotnya meningkat dalam indeks MSCI, arus dana asing dapat masuk dalam jumlah besar dan cepat. Dalam satu hari perdagangan, aliran dana yang masuk bahkan dapat mencapai sekitar US$2 miliar.
“Kalau sudah masuk MSCI, biasanya hari itu saja US$2 miliar masuk,” katanya.
Fithra menilai arus modal tersebut memberikan manfaat ganda. Selain mendukung penguatan pasar saham, dana asing yang masuk juga berpotensi menahan volatilitas rupiah tanpa perlu menguras cadangan devisa.
“Artinya ongkos moneter enggak usah banyak-banyak, enggak usah foreign exchange reserve keluar banyak-banyak, rupiah kita bisa lebih stabil,” ujarnya.
Ia menjelaskan, stabilisasi rupiah melalui arus modal portofolio berbasis indeks lebih efisien karena tidak memerlukan intervensi langsung bank sentral dalam skala besar. Dengan demikian, stabilitas nilai tukar dapat dicapai melalui mekanisme pasar.
Namun demikian, Fithra menekankan pentingnya dukungan kebijakan regulator pasar modal agar peluang tersebut tidak terhambat. Ia menyoroti perlunya menjaga stabilitas perdagangan saham selama periode review indeks global.
“Kalau ada regulator, kalau bisa itu difasilitasi. Jangan ditahan-tahan. Dalam periode review jangan ada yang mati, disuspensi jangan dulu,” katanya.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Tetap Menguat di Tengah Volatilitas Tinggi Akibat Geopolitik Global
Menurut Fithra, selama masa review, transaksi saham Indonesia sebagian besar digerakkan oleh algoritma investor asing yang sensitif terhadap perubahan indeks. Gangguan perdagangan, termasuk suspensi saham, berpotensi menghambat masuknya dana asing.
“Karena yang bekerja di sini algoritma-algoritma asing. Itu masuk karena ada yang naik,” ujarnya.
Selain MSCI, indeks global lain seperti FTSE juga dinilai memberikan peluang serupa. Fithra mencatat, terdapat beberapa window rebalancing indeks global setiap tahun yang dapat dimanfaatkan untuk menarik arus dana asing secara berulang.
“Dalam setahun ada empat window MSCI, belum lagi FTSE. Itu keuntungan ekonominya banyak,” katanya.
Arus dana asing berbasis indeks ini dinilai semakin penting di tengah tekanan terhadap rupiah yang dipicu oleh sentimen global dan kekhawatiran investor terhadap pasar obligasi domestik.
Meski defisit fiskal Indonesia masih dijaga di bawah 3 persen, tekanan di pasar obligasi tetap memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Dalam konteks tersebut, Fithra menilai optimalisasi momentum indeks global dapat menjadi salah satu cara untuk memoderasi pergerakan rupiah yang dinilai masih liar.
“Bisa kemudian memoderasi pergerakan rupiah yang liar,” ujarnya.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Terlalu Dalam, BI Buka Sinyal Penguatan
Ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter dan fiskal, tetapi juga pada kemampuan pasar modal menarik arus dana asing yang berkelanjutan.
Selama prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten tetap terjaga, Indonesia dinilai memiliki daya tarik kuat di mata investor global.
Dengan memanfaatkan momentum MSCI rebalancing dan indeks global lainnya secara optimal, Indonesia dinilai dapat memperoleh stabilitas pasar keuangan dengan biaya yang lebih efisien, sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait:
Advertisement